**Bab 102 Martha**DI PUSAT KOTA NAURUAN — KOTA PANAS DAN BERDOSALangkah Saihan terhenti di tengah keramaian yang tak pernah benar-benar diam. Malam baru turun, tapi Nauruan sudah mabuk sejak siang. Kota ini tak pernah kenal waktu. Tidak ada pagi, siang, atau malam—yang ada hanya detik-detik menuju kehancuran yang ditunda.Deretan rumah bordil bersinar temaram di kejauhan. Cahaya dari lentera berlapis kaca berwarna, merah darah, biru kusam, dan ungu kehitaman, berpendar seperti bisikan godaan, berganti-ganti saat angin meniup tirai tipis di jendela. Di dalamnya, para wanita tertawa dengan suara yang terlalu riang untuk jujur, menyambut pria dari segala kelas, selama kantong mereka cukup berat untuk membeli satu jam pelarian dari kenyataan.Di jalan utama, deretan meja judi memenuhi ruang antara warung dan tempat semir sepatu. Teriakan, tawa keras, dan umpatan bercampur jadi satu. Alkohol murahan mengalir seperti air suci di kota dosa ini. Beberapa lelaki bertelanjang dada berjudi sam
Baca selengkapnya