Se connecter**Bab 105 Debat terbuka**
Tepat seperti yang dijanjikan Thally, mereka membicarakannya saat makan siang. Matahari di luar memantul dari jendela ruang makan kecil itu, tapi atmosfer dalam ruangan jauh dari hangat. Masing-masing dari mereka memikul beban yang tak kasat mata, kecurigaan, rasa bersalah, dan bisikan ancaman yang belum sepenuhnya terbaca.
**Bab 110 Gangguan**Ketegangan langsung mengental. Beberapa pengunjung mulai berdiri, tubuh mereka tegang, mata waspada. Beberapa tangan bahkan sudah merayap ke gagang senjata.Garran tetap fokus. Matanya tak lepas dari pria itu, tapi suaranya kini diarahkan pada Brisa. "Brisa, ada apa?"Brisa tak menunduk. Ia menatap lurus, nadanya penuh amarah dan jijik. "Dia meraba bokongku. Sampai roknya tersingkap. Dasar bajingan mesum."Desahan marah terdengar dari beberapa sudut ruangan.Garran m
**Bab 109 Surat ketiga**"Rusha, aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi. Duduk, beristirahat sekarang!" seru Garran, suaranya menggelegar di tengah hiruk-pikuk kedai.Nada tegas dan gelombang khawatir yang tak disembunyikan membuat Atthy—yang dipanggil Rusha oleh semua orang di desa itu—mengernyitkan dahi. Ia menunduk, lalu menatap Garran dengan mata memelas, bibirnya nyaris bergetar.Namun Garran tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada. "Jangan membuat wajah seperti itu. Aku tidak akan lagi terjebak oleh wajah kasihanmu itu!" tukasnya, meski sorot matanya jelas mengandung kasih sayang.
**Bab 108 Rencana**Ruang kerja Putra Mahkota Cavero, malam telah menutup benteng dalam selimut dingin.Hugh berdiri di depan peta besar yang tergantung di dinding. Jarinya bergerak perlahan, menelusuri jalur-jalur antara Ceron, Nauruan, hingga Selatan.Cavero bersandar santai di kursi berat, tangan kanan menopang dagu, matanya memperhatikan setiap gerak Hugh.Mereka telah berbicara selama lebih dari satu jam, tapi yang dibahas bukanlah sekadar masalah militer atau dagang.Ini tentang me
**Bab 107 Kabar Kehamilan**Pagi itu, embun belum sepenuhnya mengering dari dedaunan ketika Sania menyiapkan air hangat di dapur. Api menyala tenang di tungku, memanaskan panci logam besar. Ia melirik ke arah Atthy yang sedang melipat kain-kain bersih di sudut ruangan."Rusha, kau tidak perlu mengerjakannya pagi ini. Biar Kaiden yang mengurus semua di kedai," ucap Sania lembut sambil menyibak helaian rambut dari wajahnya.Atthy menoleh, sedikit terkejut. "Aku tidak apa-apa, Bibi. Ini pekerjaan ringan.""Tetap saja," sahut Sania. "Kau duduklah dulu. Ada yang ingin kami bicarakan."
**Bab 106 Garran Pulang**Salju siang itu turun tipis, membentuk lapisan lembut di atas tumpukan-tumpukan yang belum lama dibersihkan. Matahari bersinar malu-malu, namun cahayanya cukup untuk menimbulkan kilau samar di permukaan beku. Suara gesekan sekop dan derik pintu kandang mengisi halaman depan kedai. Di antara tiupan angin dingin yang tajam, dua sosok remaja tampak sibuk, saling bercanda sembari bekerja.Atthy, dengan pipi memerah oleh udara dingin dan napas menghembuskan uap tipis, mengangkat ember air hangat dari sumur. Rambut merahnya yang dikepang rapi melambai saat ia menoleh ke arah Finn, yang tengah menyisir kuda tua milik salah satu pengunjung.''Finn, kau yakin Paros
**Bab 105 Debat terbuka**Tepat seperti yang dijanjikan Thally, mereka membicarakannya saat makan siang. Matahari di luar memantul dari jendela ruang makan kecil itu, tapi atmosfer dalam ruangan jauh dari hangat. Masing-masing dari mereka memikul beban yang tak kasat mata, kecurigaan, rasa bersalah, dan bisikan ancaman yang belum sepenuhnya terbaca.Ash dan Kevin saling berpandangan."Jadi maksudmu, Tony memang terkait dengan kematian Carlton...?" tanya mereka hampir bersamaan, suara mereka menegang.Thally menatap piringnya sejenak, seolah menarik napas lewat diam. Lalu, dengan gerakan tenang tapi penuh makna, ia meletakkan sebuah ampl
**Bab 058 Kendali Diri**''Apa ini? Ini belum waktunya. Dia bilang akan bicara setelah makan malam..." gumam Atthy sambil berjalan keluar dari ruang kerja Helena. Keningnya sedikit berkerut saat merenung. "Sangat tidak biasa dari dirinya. Ada apa?"Belum sempat ia melangkah lebih jauh, Stela terlih
**Bab 057 Konspirasi Tiga Pelayan**---Di dalam kamar pelayan yang sempit, suasana terasa panas meskipun udara dingin pagi masih menyusup melalui celah-celah jendela kayu. Tiga sosok wanita duduk melingkar di atas lantai, masing-masing dengan ekspresi berbeda—Rosa yang frustrasi, Bela yang gelisah,
**Bab 056 Terang dan Gelap**''Kakek, apakah kakek membenci Duchess?'' tanya Karl.Mata Vadim terbelalak mendengar pertanyaan cucu tertuanya. Dia menatap Karl dengan tajam, mencoba memahami arah pemikirannya. Pertanyaan itu tidak datang begitu saja—ada sesuatu yang melatarbelakanginya.''Maafkan sa
**Bab 054 Pergolakan Batin**---Ruang kerja yang dipenuhi aroma khas kertas tua dan tinta yang baru mengering. Di balik meja besar yang tertata rapi, di hadapannya, Helena berdiri dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya. Matanya sedikit redup, pikirannya jelas dipenuhi oleh sesuatu.Alwyn masuk ke







