Jarak yang Menguatkan---Dua minggu setelah kepergian Tejo, rumah terasa lebih sepi dari yang aku bayangkan. Meskipun Ibu mertua dan ibuku sering datang, tetap ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh suamiku. Setiap malam, aku menunggu telepon darinya dengan perasaan campur aduk antara rindu dan cemas.Malam itu, aku duduk di teras kamar dengan selimut tebal menyelimuti tubuhku yang semakin membesar. Ponselku bergetar di atas meja kecil. Nama Tejo terpampang di layar."Hallo, Mas," sapaku dengan suara ceria meskipun hatiku sebenarnya ingin menangis."Hallo, Dek," suara Tejo terdengar hangat di ujung telepon. "Bagaimana keadaanmu hari ini?""Aku baik, Mas. Bayinya juga aktif sekali hari ini," jawabku sambil mengusap perutku."Mas senang mendengarnya," kata Tejo. "Dek, Mas punya kabar baik.""Kabar baik apa, Mas?" tanyaku penasaran."Proyek di sini sudah selesai lebih cepat dari perkiraan," jelas Tejo. "Mas bisa pulang minggu depan."Aku terbelalak. "Serius, Mas?""Serius, Dek," j
続きを読む