Pendaran cahaya perak di langit perlahan menyusut, menyisakan kehangatan matahari yang lembut di atas Hutan Bambu Emas. Di dalam gubuk kayu yang kini terasa jauh lebih hidup, Martis perlahan melepaskan pelukannya, menuntun Mia untuk duduk di atas pembaringan rumput. Martis berbalik menatap dua sahabatnya yang masih berdiri di ambang pintu. Dengan senyuman hangat yang jarang sekali terlihat di wajah sang Penguasa Api, Martis merangkul bahu raksasa Estias dan melambai pada Rafaela. "Mia, perkenalkan," ujar Martis seraya menunjuk raksasa di sampingnya. "Ini Estias, sahabat terbaikku di Ranah Atas. Dia raksasa yang sedikit konyol, tapi memiliki keteguhan hati sekeras zirah batunya. Dan di sebelahnya adalah Rafaela, keturunan Suku Cahaya Purba." Mia mendongak, menatap Estias dan Rafaela dengan binar mata penuh rasa terima kasih. Ia membungkukkan badannya dengan anggun. "Salam kenal, Estias, Rafaela... Terima kasih telah menemani dan berjuang bersama Martis selama ini." Estias yan
Read more