Pernyataan Arvan membuat binar di mata Aeri berganti tatapan tajam. Aeri menggerutu, namun Arvan tidak peduli. Dia kembali melanjutkan langkahnya. "Di mana-mana yang didahului itu istri, ini malah teman, dasar logikamu itu gimana, sih, kon-" Sebelum kata mutiara itu keluar dari mulut perempuan cantik ini. Idris dengan sigap menutup mulut kasar itu. "Aeri, ini kita lagi di rumah sakit. Tolong, ya, bahasanya itu dijaga." Aeri dengan patuh mengangguk sembari melepas tangan Idris, lalu. "Dontol." Idris spontan menoyor kepala Aeri. "Sopan sekali, ya, bahasa Anda." Karena Idris terlalu kuat menoyornya, Aeri sampai menubruk punggung Arvan di depan. "Ck." Arvan tadinya mau diam saja, tapi kelakuan kedua temannya benar-benar tidak bisa dia biarkan. "Kalian-," Aeri melepas genggaman tangannya sebelum Arvan sempat menoleh ke belakang, dan begitu dia balik badan. Dua temannya sudah jauh main kejar-kejaran, dan itu di lorong rumah sakit pula. "Woi, anjing! Jangan kabur kalau kamu laki-laki.
Leer más