Aeri mengacak rambut Arika. Kadang anak itu lebih bijak darinya."Emang lagi ngehindar, sih," jawab Aeri jujur, dia lalu menceritakan apa yang dikatakan Arvan kemarin. "Coba deh kamu bayangkan, aku dan Bumer makan bersama, jelas aku nggak siap."Sedikitnya Arika mengerti apa yang dirasakan Aeri. Meski rada-rada, tapi pasti mbak-nya itu ada rasa trauma bertemu mertuanya.Apalagi malam itu Aeri pulang dalam keadaan menangis.Arika mengelus punggung Aeri, mencoba menguatkan."Anj*ng, kan tuh orang. Setidaknya kalau mau makan malam, dua atau tiga hari lagi kek, nggak dadakan gitu. Kan aku nggak bisa nyusun rencana buat balas dendam." Lagaknya seperti orang frustasi, rasa simpati Arika tadi seketika sirna karena kelakuan mbaknya.Arika memukul punggung Aeri dengan keras. "Anj*ng, sama-sama anj*ng.""Benar, kan. Dasar suami anj-,"Belum sempat Aeri menyelesaikan ucapannya, Arika malah memotong. "Yang aku maksud itu kamu, mbak. Dan tolong tuh mulut dijaga, suamimu itu manusia, bukan hewan."A
Terakhir Diperbarui : 2023-06-11 Baca selengkapnya