Sudah dua hari Meizura terbaring di ruang perawatan khusus, namun tak ada sedikit pun tanda-tanda perbaikan. Tubuhnya tetap diam, sunyi, seolah jiwanya tersesat di lorong panjang yang tak seorang pun tahu ujungnya di mana. Beberapa kali kondisinya sempat drop, membuat alarm monitor berbunyi nyaring dan para perawat berlarian masuk dengan wajah tegang. Dokter hanya bisa menghela napas panjang. Meizura mengalami koma, dan tidak ada yang mampu memprediksi kapan ia akan membuka mata kembali. Kalimat itu seperti palu yang dipukulkan berulang kali di kepala keluarga yang menunggu di luar ruang ICU. Harapan ada, tetapi tipis. Keyakinan ada, tetapi rapuh. Hari ini, setelah kondisinya dinyatakan cukup stabil, Meizura dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Namun aturan tetap ketat. Hanya satu atau dua orang yang boleh masuk, itupun harus bergantian dan mengenakan pakaian steril lengkap. Tidak ada kerumunan. Tidak ada keributan. Orang pertama yang diizinkan masuk adalah Furqon. Pria paru
Read more