Bab 22Kabut merah berputar semakin liar di lereng jurang Gunung Pawitra. Pohon-pohon pinus berguncang keras seolah ada badai besar berputar di antara akar gunung, padahal langit di atas tetap diam dan suram. Suara lonceng tua terus berdentang dari kedalaman jurang, berat dan lambat, seperti panggilan dari kuil kematian yang terkubur berabad-abad.Raksasa batu itu berdiri di tepi jurang sambil menatap Setho Gentala tanpa berkedip. Retakan-retakan merah di tubuhnya semakin terang, memancarkan cahaya samar seperti bara di dalam batu gunung.“Kaummu menunggumu pulang.”Kalimat itu masih terngiang di kepala Setho ketika tubuhnya mendadak terasa panas. Napasnya menjadi berat. Sesuatu bergerak di dalam darahnya, liar dan asing, seolah ikut bereaksi terhadap suara makhluk penjaga jurang itu.Daksa yang sedang menahan serangan dua pemuja Lingkar Ular sempat melirik ke arah Setho.“Oi! Jangan bengong di tengah perang!”Bentakan itu memecah sesaat suara-suara aneh di kepala Setho.Ia langsung m
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-22 Mehr lesen