Sisa-sisa hawa panas dari ledakan tenaga merah di lereng Pawitra perlahan menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang saat fajar mulai menyingsing. Hujan telah mereda menjadi gerimis tipis, meninggalkan bau tanah basah dan sisa pembantaian yang pekat di antara pepohonan yang tumbang.Setho Gentala duduk di atas sebuah batu besar yang terbelah menjadi dua akibat benturan tenaga semalam. Ia menyeka bilah pedangnya dengan sepotong kain hancur yang robek dari jubah salah satu prajurit Umbrawesi. Tangannya masih gemetar samar—bukan karena lelah setelah bertarung mati-matian, melainkan karena amarah asing yang kini mengendap di dasar sukmanya. Amarah itu terasa pekat, seperti binatang buas yang baru saja mencicipi darah dan kini mendambakan lebih banyak lagi.Simbol merah di lengannya telah menyusut, kembali bersembunyi di bawah kulit, namun rasanya masih seperti besi panas yang ditanam paksa ke dalam dagingnya."Kau tidak bisa terus menyembunyikannya, Setho," suara Kalacitra m
Read more