Tubuh Setho Gentala melesat bagai sebatang anak panah lepas dari busur, melompati parit belerang yang mendidih dengan kaki yang nyaris tidak menyentuh permukaan uap racun yang mengepul hijau.Sepasang matanya terkunci rapat pada bentangan rantai ganda besi raksasa yang menahan daun gerbang benteng luar Kadipaten barat, yang berkeriat hebat menahan beban gerak naik turun papan jembatan.Udara di sekelilingnya bergetar kencang, dipenuhi gesekan ratusan anak panah musuh yang meluncur deras, namun sebagian besar hancur berkeping-keping begitu membentur sisa riak hawa pelindung yang dilepaskan dinding es buatan Kalacitra di belakangnya.Menteri tua yang berdiri di atas selasar menara pengawas berteriak panik, lambaian tangan jubah ungunya tidak lagi berwibawa, melainkan bergerak liar memberikan komando kepada para penembak busur silang."Tembak kakinya! Jangan biarkan jahanam itu mencapai pangkal engsel jembatan, tuang minyak panas ke parit sekarang juga!"Perintah itu terlambat terlaksana
Read more