Matahari bergulir kian rendah ke peraduan barat, melempar bayang-bayang panjang yang kaku di atas permukaan Alun-Alun Trowulan yang mendadak lengang. Sisa-sisa angin tenggara bertiup membawa debu kapur yang kering, berputar-putar di sekitar tiang-tiang pancang gantungan yang baru saja dikosongkan setelah eksekusi pengikut Banyak Widang selesai dilaksanakan.Setho Gentala melangkah meninggalkan pelataran luar sasana, tangannya yang terbungkus zirah tembaga masih merasakan denyut kebas yang menjalar dari pangkal siku hingga ke ujung jemari, sisa pergolakan tenaga batin purba yang menolak untuk sepenuhnya diredam.Langkah kakinya terasa berat namun mantap, memecah kesunyian sore yang kian merayap naik menutupi dinding-dinding bata merah benteng lapis kedua.Di sampingnya, Kalacitra berjalan dengan pandangan yang terus menyisir kelebatan pucuk-pucuk pohon beringin kembar di tengah alun-alun, merasakan perubahan suhu udara yang mendadak turun secara tidak wajar.Ujung selendang hitamnya se
Read more