LOGIN“Nyonya, pria tidak bercerita. Bos juga sama,” kata Zefan perlahan. “Pria itu, kalau ada masalah biasanya diselesaikan diam-diam. Kalau masalahnya di luar kendali kayak waktu itu, seorang pria akan merasa gagal. Itulah yang bos rasakan, Nyonya.”Maura menatap keseriusan di wajah Zefan.“Meski nggak kelihatan, tapi bos sebenarnya menyalahkan dirinya sendiri. Nyonya nggak tahu, kan, kalau bos diam-diam menempatkan penjaga di sekitar rumah Nyonya? Bos menyalahkan dirinya sendiri. Katanya, kalau dia menempatkan penjaga lebih banyak lagi, mungkin anak itu masih ada. Mungkin tinggal menunggu kelahirannya, bahkan mungkin dia udah lahir.”“Udah, cukup!” pinta Maura dengan emosi yang tiba-tiba naik. “Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Intinya kamu lagi mendukung Dewangga, kan? Karena dia bos dan sahabat kamu, kan? Kamu pengen aku maafin dia?”“Bos kan nggak salah tentang kejadian itu, Nyonya. Meski diam, tapi dia nunggu anaknya lahir sampai-sampai membeli beberapa keperluan bayi kayak—”“Cukup, Z
Pagi hari di akhir pekan, Maura tengah berjalan-jalan bersama Ruslan sambil menikmati sepotong roti panggang yang dibeli ayahnya sebelum kafe buka sekitar satu jam lagi.“Papa, gimana urusan pekerjaan Papa?” tanya wanita itu. “Rasanya seneng banget bisa jalan-jalan bareng Papa kayak gini.”Ruslan yang tangannya digandeng tersenyum lembut. “Pekerjaan papa lancar. Papa juga senang kita ada waktu buat jalan-jalan. Kamu udah ketemu Dewangga? Dia datang ke sini, buat menjalin kerja sama dengan perusahaan tempat papa bekerja. Dia akan jadi partner proyek yang sedang papa kerjakan.”“Oh, ya?” Maura mengunyah rotinya yang tiba-tiba terasa seperti spons keras. “Dia datang ke kafe dua hari lalu dan minta buat rujuk.”“Lalu apa jawaban kamu?”“Aku bilang … aku nggak mau,” jawab Maura.“Apa alasannya? Apa boleh papa tahu?”“Yah.” Maura mengedikkan bahunya sambil menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kembali.”Ruslan mengangguk mengerti.“Papa lihat, dia pernah mengikutimu waktu kamu lagi jal
Angin dari arah sungai Thames bertiup lembut pagi itu.Maura tengah berjalan-jalan setelah membuka kafe yang dijaga dua orang karyawannya. Kebetulan, pelanggan masih sepi, jadi dia memiliki waktu sebentar untuk menggerakkan tubuhnya sambil mencari kudapan lezat yang tak dijual di kafenya.Sesekali wanita itu menoleh ke belakang, merasa ada seseorang yang memperhatikannya, namun orang-orang yang dilihatnya hanyalah orang asing yang tengah menikmati pemandangan sungai.Maura berjalan lagi sampai ke dekat London Eye. Dia diam sebentar melihat kincir ria raksasa itu. Ada beberapa orang yang sedang mengantri untuk menaiki kapsulnya di sana. Dia belum pernah ke sana sejak tiba di London dengan ayahnya. Haruskah dia ikut naik?Maura menggelengkan kepalanya. Dia segera berbalik dan menyusuri pinggiran sungai untuk kembali ke kafe.“Lain kali aja, kalau waktunya luang biar leluasa,” gumamnya perlahan.***Pekerjaan di kafe berjalan lancar hingga siang.Siang hari itu, Maura pergi ke dapur bela
Laura tersenyum kaku sambil diam-diam mengepalkan tangannya.“Meski aku bukan ibu kandungmu, tapi aku yang mengurusmu sewaktu kecil, Dewangga,” katanya tak terima. “Masa iya kamu kayak gini ke mama?”“Yang benar-benar mengurusku cuma oma Ambar dan bibi pengasuh,” jawab Dewangga.“Kamu lupa? Setiap mama belanja, pasti mama akan ajak kamu, kan?” ujar Laura, meminta pengakuan.“Ya, itu karena Anda ingin berbelanja dengan puas. Dengan mengajakku, Anda bisa memakai black card milik kakek dan bisa Anda pamerkan pada teman-teman Anda,” jawab Dewangga dengan sorot mata tajam. “Anda lupa? Ketika Anda tengah asyik berbelanja, Anda selalu meminta saya menunggu berjam-jam di sofa toko sendirian. Pernah juga Anda meninggalkan saya di mall. Masih beruntung saya bisa pulang sendiri dengan menaiki taksi.”Senyum Laura pudar. Kejadian itu sudah sangat lama berlalu tapi Dewangga ternyata masih ingat jelas. Bahkan dia sendiri sudah hampir lupa.“Tapi Dewangga, mama udah bikin janji sama Sandrina. Temui
Sore itu menara Big Ben terdengar berdentang lima kali dari kejauhan, tanda waktu sudah pukul lima sore.Maura tengah menikmati segelas minuman cokelat hangat dan semilir angin yang berhembus perlahan di sisi sungai Thames sambil melihat pemandangan tower bridge yang cukup ramai dan beberapa kapal pesiar yang melintas.Wanita itu merapatkan jaketnya. Meski sudah tinggal beberapa bulan di sana, dia masih belum terbiasa dengan suhu udaranya yang lebih dingin dari suhu udara di Indonesia.“Mau pancake?” tanya Narendra sambil mendekat dan menyodorkan sebuah pancake panas yang dibungkus kertas roti.“Makasih.” Maura tersenyum sambil menerima pancake itu.Narendra tersenyum sambil menatap kapal pesiar di depan mereka. “Kalau menikmati afternoon tea sambil berlayar kayaknya enak, tuh.”“Males, ah,” jawab Maura sambil menggigit kuenya.Narendra terkekeh geli. Sudah berapa kali wanita itu menolak ajakannya entah apapun itu? Meski cuma menaiki London Eye berdua atau ke tempat manapun yang dia m
Sudah lebih dari seminggu berlalu, Dewangga memilih tinggal di rumah oma Ambar karena hampir tak bisa tidur di rumahnya sendiri.Pria itu semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan terkadang pulang larut.Hampir pukul setengah sepuluh malam, saat dia baru pulang. Seharusnya ruang samping sudah gelap gulita seperti biasa. Namun hari itu masih terang benderang.Dia segera menuju ke ruang itu, ingin melihat siapa yang belum tidur. Namun langkahnya terhenti di ruang tengah saat dia mendengar suara yang familiar.“Maura tinggal di apartemen dekat sungai Thames.”Dewangga tahu itu suara Narendra. Sepertinya dia baru pulang setelah lebih dari seminggu di London.“Dia baru ikut kelas baking karena pengen bisa bikin beberapa kue enak.”“Oh, ya? Oma nggak sabar pengen ketemu dia dan nyicip kue buatannya.”Kali ini, terdengar suara oma Ambar menyahut.Dewangga terdiam di balik dinding. Tak seharusnya dia menguping namun rasanya dia ingin mendengar kabar Maura lebih banyak.“Aku udah nyicip
Pagi menjelang. Di luar, udara dingin berhembus perlahan menyapu ranting-ranting basah bekas hujan semalam. Sinar matahari baru nampak setelah tertutup awan tipis sejenak. Zefan menjemput Dewangga tepat setelah pria itu selesai sarapan. “Kamu mengin
“Tuan, ini paket yang Nyonya terima tadi,” kata Mia dengan suara perlahan sambil melirik pintu kamar Maura yang sudah tertutup rapat. “Nggak ada nama pengirimnya.” Dewangga yang tengah berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya segera duduk. “Berikan pada
Di sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan perabotan berkualitas tinggi, Alena duduk di sofa kamarnya sambil menggenggam ponselnya. Televisinya menyala, memutar sebuah film yang tak minat ditontonnya. Wanita itu segera menghubungi seseorang dengan perasaan tak sabar sambil menggigit
Dering ponsel Dewangga mengalihkan perhatian pria itu. Maura menelan ludahnya pelan sambil menatap Dewangga dengan cemas. Pria itu langsung memeriksa ponselnya. Entah bagaimana pikirannya, Maura tak tahu. Mungkin sebentar lagi Dewangga akan marah padanya, dan dia sudah siap dengan resi







