Aroma masakan yang berbeda dari biasanya menyambut penciuman Ronald di pagi hari. Ia baru saja keluar dari ruang kerjanya dan menoleh ke kamar Nadin, penasaran apakah istrinya itu sudah bangun atau belum. Sejak Nadin pindah ke kamarnya, ia selalu tidur di tempat kerjanya, Sedang Bu Sinta tidur di kamar tamu di lantai bawah. "Sarapan dulu," ucap Bu Sinta, sedang Nadin baru muncul dari dapur. "Setelah olahraga saja," balas Ronald. Ia sempat melirik Nadin yang sedang melihat ke arahnya, dan mereka canggung. "Ya sudah, kami boleh sarapan duluan?" ucap Bu Sinta, ia memposisikan diri sebagai tamu jadi harus izin. "Silahkan, Jangan sungkan." Ronald tersenyum. Nadin meliriknya, terpesona dengan senyuman itu. Tidak ada kesan kalau dia pernah begitu kejam padanya. Ronald pergi setelah memakai sepatu sportnya. Ia berlari di sepanjang jalan yang sepi, kemudian berbelok ke tempat yang penuh dengan pemakaman, ia berhenti di depan makam bertuliskan, Mentari. "Halo, Sayang. Bagaimana kaba
Read more