Masuk"Ini perintah! aku ingin menikah denganmu karena suatu alasan, ini tidak melibatkan perasaan yang membuatmu berdebar-debar, kamu pikir kamu siapa?" ucap Ronald, terdengar serius dan memaksa sekaligus meremehkan. "Pernikahan tidak bisa disamakan dengan pekerjaan, Pak. Anda tidak bisa memerintah sesenaknya untuk alasan apapun agar orang menikah, apalagi anda tidak benar-benar mengenal saya" Nadin masih bisa protes. "Jadi kau tidak mau?" Ronald berdiri dan menghampiri Nadin. "Iya, Pak. lagi pula alasan apa yang membuat anda tiba-tiba ingin menikah dengan saya, Pak?" Tanya Nadin, meski ia sudah bisa membaca alasannya, ia hanya ingin mengulur waktu. "Karena aku ingin melihatmu menderita setiap hari di depan mataku" ucap Ronald tepat di hadapan Nadin, itu seperti sebilah pisau yang menggerogoti lehernya, rasanya Nadin ingin menangis mendengarnya, tapi tidak semudah itu membuang-buang air mata untuk orang yang sedang emosi. 'kejam sekali! Harus semenderita inikah, anak dari wanita yang berselingkuh?' ucapnya dalam hati, ia menelan ludahnya dengan kesal. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa!" Ucap Nadin tegas, tak ingin diganggu gugat.
Lihat lebih banyakRonald sudah memperkirakan waktu kedatangan orang tua Tari. Ia sempat mencuri dengar rencana Bu Ratih yang memaksa Pak Dion mengantarnya ke rumah Bu Sinta. Saat mengetahui rencana mereka, Ronald langsung bertindak lebih dulu. Ia tidak akan bersembunyi seperti pengecut lagi. Ia sekarang sedang duduk di ruang tamu sambil memperhatikan jam. Dan benar saja, mereka datang tepat di waktu yang telah diperkirakan Ronald. Mereka masuk dengan mudahnya berkat Pak Dion. "Kamu?" Pak Dion kaget melihat Ronald di rumah itu. Tapi Bu Ratih lebih kaget lagi. Ia bahkan sedikit lupa dengan tujuannya, sampai tidak melihat Bu Sinta dan Nadin yang baru saja keluar dari kamar. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya penuh selidik. Ronald tidak langsung menjawab. Memang ini tujuannya. Ia ingin mengalihkan Bu Ratih agar fokus padanya. "Bu Ratih sendiri, kenapa bisa sampai ke sini?" Ronald tampak sangat tenang menghadapinya. "Jawab, Ronald!" tuntut Bu Ratih penuh penekanan. "Karena sudah tertangkap basah
Nadin pulang ke rumah ibunya. Jika kemarin karena khawatir tentang Ronald, kali ini ia khawatir karena Bu Ratih. Ia tidak ingin seseorang menyakiti ibunya. Itu sebabnya ia mau saja menikahi Ronald, demi keamanan ibunya. Ia benar-benar rela menggantikan ibunya menanggung semuanya. Nadin tiba di rumah ibunya saat senja menyingsing. Begitu sampai, ia langsung mencari ibunya. "Ibu!" panggilnya. "Nadin? Ada apa lagi kali ini? Kalian berantem lagi?" selidik Bu Sinta. "Nggak, Bu." Nadin tidak memberi penjelasan, ia langsung memeluk ibunya. "Ada apa, Nad?" Bu Sinta membiarkan putrinya. "Haruskah aku jujur pada Ibu?" "Tentang apa?" "Tentang semuanya, tapi Ibu cukup mendengarkan, jangan melakukan apa pun." "Ya, Ibu janji." Bu Sinta menuntun Nadin menuju sofa. "Kami tidak saling mencintai, Bu. Hubungan kami tidak sehat," lanjut Nadin ketika ia duduk. Bu Sinta kaget, tapi ia tidak ingin membuat Nadin berubah pikiran, jadi ia tetap diam mendengarkan. "Dia menikahiku karena dia pikir kit
Hari-hari berikutnya, kehidupan Ronald dan Nadin berkembang lebih baik. Ronald tidak usil lagi dan Nadin merasa lebih aman dari sebelumnya. Nadin sedang bekerja di kantor seperti biasanya. Kali ini pekerjaannya lebih banyak karena produk baru dari Mega Food ditambah tuntutan target marketing dari Bramasta. Di awal bergabung dengan perusahaan Bramasta, ia sengaja diberi tugas lebih banyak oleh Ronald dan masih berlangsung hingga sekarang. Ia pikir hubungan mereka sudah lebih baik sekarang, jadi ia berniat meminta pada Ronald agar pekerjaannya dikurangi. Saat ia sedang sibuk-sibuknya, seorang wanita paruh baya tiba-tiba mendekatinya dengan tatapan jijik. Ia mengenal wanita itu. Ia menegang seketika. "Jadi kamu putri perempuan itu? Bisa-bisanya dia menipuku selama bertahun-tahun." Mata Bu Ratih berkaca-kaca. Nadin diam saja karena ia sudah mengerti segalanya. Selain Bu Ratih, ada ayahnya juga. Ayahnya mencoba menenangkan Bu Ratih, tapi sia-sia. Pak Dion malah melihat Nadin dengan tatap
Malam semakin larut. Nadin sudah masuk ke kamarnya tanpa mengajak Ronald. Akhirnya Ronald pergi ke kamar tamu. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia mengingat saat pertama kali ke rumah itu dan memaksa Nadin melayaninya, dan itu kesalahan paling fatal yang ia lakukan pada Nadin. Ia bangun dari pembaringannya. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaian formal yang ia gunakan, tapi ia lupa membawa baju ganti karena buru-buru ingin mendahului Nadin tiba lebih dulu. Ia hanya menggulung kemejanya hingga siku. Ia lalu keluar dari kamar karena merasa begitu bosan. Ternyata ada Nadin di dapur sedang membuat mi rebus. Nadin merasa penampilan Ronald yang paling terbaik adalah saat ia menggulung lengan kemejanya, seperti saat pertama kali ia melihatnya waktu itu. Tapi ia abaikan, lalu berkata, "Kenapa belum tidur?" Tangannya sibuk mengaduk panci di atas kompor. "Belum ngantuk," jawab Ronald seadanya. Ia lalu melanjutkan, "Buatkan untukku juga." "Kamu tidak boleh memakan makanan cepat saji," ucap
"Kenapa tidak memberitahu kami?" Bu Mary merasa menyalahkan sikap Nadin yang tidak mengabari keadaan putranya. Nata melirik dengan ekspresi senang dan licik. "Maaf, Mah. Ronald bilang tidak perlu memberitahu kalian, dia tidak mau Mamah dan yang lainnya khawatir," Nadin membela diri. "Terus kena
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Ronald harus menjalani operasi, karena ada bagian dari lambungnya yang sudah mengalami kerusakan, jika dibiarkan bisa merambat dan merusak keseluruhan lambung. Untungnya tubuhnya memberikan alarm dan ada Nadin yang memaksanya, dia begitu cuek dengan p
Seorang dokter muda sudah menunggu Ronald di depan pintu pemeriksaan, ia menyambut Ronald dengan ramah, mereka juga terlihat akrab. "Ada apa lagi?" tanya dokter itu. "Aku merasa penyakit ini semakin parah saja," Ia sedikit mengomel sambil masuk ke ruangan seolah itu miliknya. dokter itu hanya
Nadin akhirnya pulang setelah seharian bekerja, ia melangkah menuju kamarnya sendiri, saat membuka pintu, ruangan itu sudah kosong melompong sejak tadi pagi. "Ah, lagi-lagi aku lupa kalau kamarku sudah pindah, " gumamnya dengan ekspresi malas. Ia berjalan menuju tangga lalu diam sambil berpikir,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan