Siksaan Dari Tunangan Kakakku

Siksaan Dari Tunangan Kakakku

last updateHuling Na-update : 2025-12-30
By:  ZizizaqOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
3 Mga Ratings. 3 Rebyu
44Mga Kabanata
2.2Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

"Ini perintah! aku ingin menikah denganmu karena suatu alasan, ini tidak melibatkan perasaan yang membuatmu berdebar-debar, kamu pikir kamu siapa?" ucap Ronald, terdengar serius dan memaksa sekaligus meremehkan. "Pernikahan tidak bisa disamakan dengan pekerjaan, Pak. Anda tidak bisa memerintah sesenaknya untuk alasan apapun agar orang menikah, apalagi anda tidak benar-benar mengenal saya" Nadin masih bisa protes. "Jadi kau tidak mau?" Ronald berdiri dan menghampiri Nadin. "Iya, Pak. lagi pula alasan apa yang membuat anda tiba-tiba ingin menikah dengan saya, Pak?" Tanya Nadin, meski ia sudah bisa membaca alasannya, ia hanya ingin mengulur waktu. "Karena aku ingin melihatmu menderita setiap hari di depan mataku" ucap Ronald tepat di hadapan Nadin, itu seperti sebilah pisau yang menggerogoti lehernya, rasanya Nadin ingin menangis mendengarnya, tapi tidak semudah itu membuang-buang air mata untuk orang yang sedang emosi. 'kejam sekali! Harus semenderita inikah, anak dari wanita yang berselingkuh?' ucapnya dalam hati, ia menelan ludahnya dengan kesal. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa!" Ucap Nadin tegas, tak ingin diganggu gugat.

view more

Kabanata 1

Bagian 1 Mengetahui kebenaran.

Nadin hancur saat mendengar pengakuan ibunya. Ternyata dia anak dari istri kedua. Ia tidak menyangka ibunya hanya istri simpanan yang menikah siri dengan ayahnya. Kebahagiaan yang ia rasakan selama dua puluh tiga tahun ternyata hanya kebohongan belaka.

Nadin tahu semuanya ketika mendengar kabar ayahnya dirawat di rumah sakit. Anehnya, ibunya justru tidak peduli. Tidak ada tanda-tanda Bu Sinta ingin menjenguk suaminya sendiri.

"Ibu, bukankah Ayah sedang sakit? Kenapa kita diam saja?" tanya Nadin. Ia tidak tahan melihat ibunya bergeming.

"Tidak usah khawatir, Nad. Pasti sudah banyak yang menemani Ayah. Lagi pula kita tidak bisa ke sana, jaraknya terlalu jauh."

Nadin mengernyit tidak paham. "Kita ini keluarganya, Bu. Masa kita biarkan Ayah dirawat orang rumah sakit saja?" Nadin berharap Bu Sinta luluh.

Bu Sinta malah berdiri, hendak meninggalkan ruang tamu. Nadin tidak tahan dan akhirnya memutuskan sendiri, "Kalau Ibu tidak mau, biar Nadin saja yang pergi." Ucapan Nadin membuat Bu Sinta berhenti. "Jangan, Nad," katanya tegas.

"Kenapa, Bu? Aku malah heran melihat Ibu bertindak seperti orang lain."

"Ayah punya keluarga selain kita, Nad," ucap Bu Sinta lirih. Ia tampak ragu, tapi Nadin harus tahu.

"Maksud Ibu, Nenek?" Nadin tidak ingin berpikir lebih jauh, walaupun ia juga belum pernah bertemu nenek yang ia maksud itu.

"Tidak sesederhana itu, Nad." Bu Sinta kembali duduk. Sepertinya ia akan mengatakan sesuatu yang sangat serius. Ia menatap Nadin lalu menjelaskan, "Ibu bukan satu-satunya istri ayahmu, Nad."

Kenyataan itu membuat dada Nadin bergemuruh hebat. Ia tidak mau percaya.

"Karena itu kita tidak perlu menemuinya. Keberadaan kita tidak boleh ketahuan oleh mereka," lanjut Bu Sinta.

Panas menjalar di pelupuk mata Nadin, sedang ibunya sudah menangis, tatapannya menerawang.

"Maksud Ibu apa? Kenapa Ibu bukan satu-satunya? Apa yang perlu disembunyikan sampai kita tidak boleh ketahuan?"

Akhirnya Nadin mengeluarkan segala pertanyaan yang selalu ingin ditanyakannya sejak dulu. Ia selalu merasa aneh. Kenapa keluarganya berbeda dengan teman-temannya? Mereka selalu bepergian saat liburan sekolah bersama keluarga, sementara ia tidak ke mana-mana, terutama ke ibu kota.

"Mungkin sudah saatnya kamu mengetahui ini," ucap Bu Sinta sambil mengusap kedua pipinya.

"Kamu adalah anak dari istri kedua ayahmu, Nad. Ibumu ini seorang istri simpanan. Ibu memberitahumu karena ibu merasa kamu sudah bisa paham sekarang."

Perasaan Nadin tidak menentu. Haruskah ia mengasihani ibunya atau membencinya? Satu hal yang pasti, hatinya sakit mendengar pengakuan itu. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia langsung mempertanyakan statusnya sendiri. Kalau begitu, dirinya anak haram? Ia pun menangis memikirkan itu.

"Tapi kamu anak kami yang lahir secara sah, Sayang. Kamu ada di perut Ibu setelah kami melangsungkan pernikahan, walaupun secara siri." Bu Sinta seperti tahu isi pikiran Nadin. Itu membuat hati Nadin sedikit lega, meski tidak lekas membuat air matanya surut.

Sudah dua puluh tiga tahun ia hidup di dunia, tidak pernah sekalipun ia curiga tentang hubungan Bu Sinta dan Pak Dion yang sebenarnya memang tidak normal.

"Sudah saatnya kamu keluar dari kebahagiaan semu keluarga kita ini. Ayahmu adalah suami orang lain, ayah dari orang lain. Kamu bukan satu-satunya anak Ayah. Kamu punya seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki. Meski kamu punya saudara, jangan pernah menunjukkan diri di hadapan mereka. Kalian tidak akan bisa bersatu. Mereka tidak akan menerima kita, karena ibumu ini telah menyakiti mereka dengan merebut ayahnya. Kalau mereka tahu keberadaan kita, Ibu takut kamu bisa berada dalam bahaya," jelas Bu Sinta. Ia tidak ingin membohongi Nadin lagi.

"Kenapa Ibu memberitahuku sekarang? Seandainya Ayah tidak sakit parah, pasti Ibu masih menyembunyikannya, kan?" Nadin belum bisa terima.

"Ibu minta maaf, Nad. Ibu tidak memberitahu sejak dini karena Ibu merasa kamu juga tidak akan paham. Ketika kamu beranjak remaja, Ibu sempat ingin memberitahumu, tapi Ibu takut mentalmu belum siap. Ibu rasa sekarang waktu yang tepat, walaupun kenyataannya tetap saja membuatmu sakit hati," jelas Bu Sinta.

"Satu lagi. Kalau kamu mau marah, marah saja pada Ibu. Ibulah yang ingin merahasiakan ini darimu, Nad."

"Dia juga menyembunyikan keberadaan kita bukan karena dia benci. Itu karena Ayah mau menyelamatkan semua keluarganya. Ia hanya tidak ingin ada yang terluka," lanjut Bu Sinta sambil mengusap air matanya lagi. Kemudian ia menatap Nadin dengan tatapan sendu. Nadin sendiri hanya bisa diam. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa mengulang waktu.

"Maafkan Ibu, Nad. Kamu bisa, kan, menerima kenyataan ini?" tanya Bu Sinta ingin memastikan.

Nadin masih tidak bisa berkata-kata, tapi ia menanggapi ibunya dengan anggukan. Bu Sinta pun memeluknya. Ia kemudian berbisik, "Terima kasih, Sayang."

Lagi-lagi Nadin hanya menanggapinya dengan anggukan. Ia tidak punya kekuatan untuk bicara.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Rebyu

Diah Ramayanti
Diah Ramayanti
ini novelnya g ada lanjutannya?
2026-03-28 16:39:02
0
0
mardawati95
mardawati95
Tidak dilanjutkan?
2025-12-31 23:07:46
1
0
Zizizaq
Zizizaq
tetap semangat...
2024-01-10 22:34:58
1
0
44 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status