تسجيل الدخول"Ini perintah! aku ingin menikah denganmu karena suatu alasan, ini tidak melibatkan perasaan yang membuatmu berdebar-debar, kamu pikir kamu siapa?" ucap Ronald, terdengar serius dan memaksa sekaligus meremehkan. "Pernikahan tidak bisa disamakan dengan pekerjaan, Pak. Anda tidak bisa memerintah sesenaknya untuk alasan apapun agar orang menikah, apalagi anda tidak benar-benar mengenal saya" Nadin masih bisa protes. "Jadi kau tidak mau?" Ronald berdiri dan menghampiri Nadin. "Iya, Pak. lagi pula alasan apa yang membuat anda tiba-tiba ingin menikah dengan saya, Pak?" Tanya Nadin, meski ia sudah bisa membaca alasannya, ia hanya ingin mengulur waktu. "Karena aku ingin melihatmu menderita setiap hari di depan mataku" ucap Ronald tepat di hadapan Nadin, itu seperti sebilah pisau yang menggerogoti lehernya, rasanya Nadin ingin menangis mendengarnya, tapi tidak semudah itu membuang-buang air mata untuk orang yang sedang emosi. 'kejam sekali! Harus semenderita inikah, anak dari wanita yang berselingkuh?' ucapnya dalam hati, ia menelan ludahnya dengan kesal. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa!" Ucap Nadin tegas, tak ingin diganggu gugat.
عرض المزيدGas min! Aku lanjutin _vibe_ nomor 1: _Slowburn Healing_ - "Rumah Baru, Luka Lama" 🔥 *500 kata, soft angst, Nadin-Ronald canggung tapi gemes*---*Lanjutan: 'Rumah Baru, Luka Lama'* *Bagian 59*Mobil Ronald berhenti di depan pagar tinggi. Rumah dua lantai, cat putih, halamannya luas tapi sepi. Nggak ada suara. Nggak ada hangat. "In.. ini rumah kamu?" bisik Nadin. Tangannya masih menggenggam tangan Bu Sinta erat. Ronald mengangguk. Ia turun lebih dulu, membukakan pintu buat mereka. "Maaf berantakan. Udah lama nggak ada yang nempatin selain aku." Berantakan. Nadin ngelirik ke dalam. Nggak ada yang berantakan. Justru terlalu rapi. Terlalu kosong. Kayak rumah contoh yang nggak pernah jadi rumah. Bu Sinta masuk duluan. Langkahnya tenang, tapi Nadin tau ibunya lagi nahan gemetar. Meja, sofa, lampu gantung... semua mahal. Tapi nggak ada foto. Nggak ada jejak manusia. "Ini kamar Ibu," ujar Ronald. Ia buka pintu kamar di lantai satu. Ranjang besar, jendela menghadap taman. "Kalau bu
Ronald sudah memperkirakan waktu kedatangan orang tua Tari. Ia sempat mencuri dengar rencana Bu Ratih yang memaksa Pak Dion mengantarnya ke rumah Bu Sinta. Saat mengetahui rencana mereka, Ronald langsung bertindak lebih dulu. Ia tidak akan bersembunyi seperti pengecut lagi. Ia sekarang sedang duduk di ruang tamu sambil memperhatikan jam. Dan benar saja, mereka datang tepat di waktu yang telah diperkirakan Ronald. Mereka masuk dengan mudahnya berkat Pak Dion. "Kamu?" Pak Dion kaget melihat Ronald di rumah itu. Tapi Bu Ratih lebih kaget lagi. Ia bahkan sedikit lupa dengan tujuannya, sampai tidak melihat Bu Sinta dan Nadin yang baru saja keluar dari kamar. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya penuh selidik. Ronald tidak langsung menjawab. Memang ini tujuannya. Ia ingin mengalihkan Bu Ratih agar fokus padanya. "Bu Ratih sendiri, kenapa bisa sampai ke sini?" Ronald tampak sangat tenang menghadapinya. "Jawab, Ronald!" tuntut Bu Ratih penuh penekanan. "Karena sudah tertangkap basah
Nadin pulang ke rumah ibunya. Jika kemarin karena khawatir tentang Ronald, kali ini ia khawatir karena Bu Ratih. Ia tidak ingin seseorang menyakiti ibunya. Itu sebabnya ia mau saja menikahi Ronald, demi keamanan ibunya. Ia benar-benar rela menggantikan ibunya menanggung semuanya. Nadin tiba di rumah ibunya saat senja menyingsing. Begitu sampai, ia langsung mencari ibunya. "Ibu!" panggilnya. "Nadin? Ada apa lagi kali ini? Kalian berantem lagi?" selidik Bu Sinta. "Nggak, Bu." Nadin tidak memberi penjelasan, ia langsung memeluk ibunya. "Ada apa, Nad?" Bu Sinta membiarkan putrinya. "Haruskah aku jujur pada Ibu?" "Tentang apa?" "Tentang semuanya, tapi Ibu cukup mendengarkan, jangan melakukan apa pun." "Ya, Ibu janji." Bu Sinta menuntun Nadin menuju sofa. "Kami tidak saling mencintai, Bu. Hubungan kami tidak sehat," lanjut Nadin ketika ia duduk. Bu Sinta kaget, tapi ia tidak ingin membuat Nadin berubah pikiran, jadi ia tetap diam mendengarkan. "Dia menikahiku karena dia pikir kit
Hari-hari berikutnya, kehidupan Ronald dan Nadin berkembang lebih baik. Ronald tidak usil lagi dan Nadin merasa lebih aman dari sebelumnya. Nadin sedang bekerja di kantor seperti biasanya. Kali ini pekerjaannya lebih banyak karena produk baru dari Mega Food ditambah tuntutan target marketing dari Bramasta. Di awal bergabung dengan perusahaan Bramasta, ia sengaja diberi tugas lebih banyak oleh Ronald dan masih berlangsung hingga sekarang. Ia pikir hubungan mereka sudah lebih baik sekarang, jadi ia berniat meminta pada Ronald agar pekerjaannya dikurangi. Saat ia sedang sibuk-sibuknya, seorang wanita paruh baya tiba-tiba mendekatinya dengan tatapan jijik. Ia mengenal wanita itu. Ia menegang seketika. "Jadi kamu putri perempuan itu? Bisa-bisanya dia menipuku selama bertahun-tahun." Mata Bu Ratih berkaca-kaca. Nadin diam saja karena ia sudah mengerti segalanya. Selain Bu Ratih, ada ayahnya juga. Ayahnya mencoba menenangkan Bu Ratih, tapi sia-sia. Pak Dion malah melihat Nadin dengan tatap
Beberapa hari telah berlalu, Ronald sudah diperbolehkan pulang, Nata setia menemaninya. Namun pekerjaan membuatnya tidak bisa menemaninya lebih lama lagi, ia harus kembali berlayat sore itu juga. Ketika Ronald tiba di rumahnya, ia berhenti sebentar untuk mengamati sekitar, ia hanya melihat pelaya
"Kenapa tidak memberitahu kami?" Bu Mary merasa menyalahkan sikap Nadin yang tidak mengabari keadaan putranya. Nata melirik dengan ekspresi senang dan licik. "Maaf, Mah. Ronald bilang tidak perlu memberitahu kalian, dia tidak mau Mamah dan yang lainnya khawatir," Nadin membela diri. "Terus kena
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Ronald harus menjalani operasi, karena ada bagian dari lambungnya yang sudah mengalami kerusakan, jika dibiarkan bisa merambat dan merusak keseluruhan lambung. Untungnya tubuhnya memberikan alarm dan ada Nadin yang memaksanya, dia begitu cuek dengan p
Seorang dokter muda sudah menunggu Ronald di depan pintu pemeriksaan, ia menyambut Ronald dengan ramah, mereka juga terlihat akrab. "Ada apa lagi?" tanya dokter itu. "Aku merasa penyakit ini semakin parah saja," Ia sedikit mengomel sambil masuk ke ruangan seolah itu miliknya. dokter itu hanya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات