Masuk"Ini perintah! aku ingin menikah denganmu karena suatu alasan, ini tidak melibatkan perasaan yang membuatmu berdebar-debar, kamu pikir kamu siapa?" ucap Ronald, terdengar serius dan memaksa sekaligus meremehkan. "Pernikahan tidak bisa disamakan dengan pekerjaan, Pak. Anda tidak bisa memerintah sesenaknya untuk alasan apapun agar orang menikah, apalagi anda tidak benar-benar mengenal saya" Nadin masih bisa protes. "Jadi kau tidak mau?" Ronald berdiri dan menghampiri Nadin. "Iya, Pak. lagi pula alasan apa yang membuat anda tiba-tiba ingin menikah dengan saya, Pak?" Tanya Nadin, meski ia sudah bisa membaca alasannya, ia hanya ingin mengulur waktu. "Karena aku ingin melihatmu menderita setiap hari di depan mataku" ucap Ronald tepat di hadapan Nadin, itu seperti sebilah pisau yang menggerogoti lehernya, rasanya Nadin ingin menangis mendengarnya, tapi tidak semudah itu membuang-buang air mata untuk orang yang sedang emosi. 'kejam sekali! Harus semenderita inikah, anak dari wanita yang berselingkuh?' ucapnya dalam hati, ia menelan ludahnya dengan kesal. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa!" Ucap Nadin tegas, tak ingin diganggu gugat.
Lihat lebih banyakAroma masakan yang berbeda dari biasanya menyambut penciuman Ronald di pagi hari. Ia baru saja keluar dari ruang kerjanya dan menoleh ke kamar Nadin, penasaran apakah istrinya itu sudah bangun atau belum. Sejak Nadin pindah ke kamarnya, ia selalu tidur di tempat kerjanya, Sedang Bu Sinta tidur di kamar tamu di lantai bawah. "Sarapan dulu," ucap Bu Sinta, sedang Nadin baru muncul dari dapur. "Setelah olahraga saja," balas Ronald. Ia sempat melirik Nadin yang sedang melihat ke arahnya, dan mereka canggung. "Ya sudah, kami boleh sarapan duluan?" ucap Bu Sinta, ia memposisikan diri sebagai tamu jadi harus izin. "Silahkan, Jangan sungkan." Ronald tersenyum. Nadin meliriknya, terpesona dengan senyuman itu. Tidak ada kesan kalau dia pernah begitu kejam padanya. Ronald pergi setelah memakai sepatu sportnya. Ia berlari di sepanjang jalan yang sepi, kemudian berbelok ke tempat yang penuh dengan pemakaman, ia berhenti di depan makam bertuliskan, Mentari. "Halo, Sayang. Bagaimana kaba
"Ibu!" pekik Nadin, ia merasa sakit hati melihat ibunya dipukul. Ia hendak membalas tapi Bu Sinta mencegah dan berkata, "Itu tidak sama, Bu. Di sini putriku adalah korban dari tunangan putrimu. Seperti yang dia katakan tadi, dia menikahinya untuk menyiksanya." Ternyata Bu Sinta lebih ingin membela Nadin daripada mengurus rasa perih di pipinya. Ronald melihat ke arah Nadin yang terlihat menahan emosi, ia sadar ternyata semua yang ia lakukan selama ini benar-benar tidak ada gunanya, apa yang ada di bayangannya tentang Nadin dan Bu Sinta sangat jauh dari ekspektasi, nyatanya mereka adalah wanita-wanita baik yang terpaksa menyandang status itu karena keadaan. "Benarkah? Kamu merasakan penyiksaannya?" Nadin melirik Ronald, selama menjalani pernikahan, Nadin belum benar-benar merasakan penyiksaan karena pada dasarnya Ronald memang laki-laki yang baik. "Bu Ratih memangnya ingin melihat aku semenderita apa? Cukup lampiaskan padaku jangan pada ibuku, akulah penyebab ibuku bertahan den
Ronald sudah memperkirakan waktu kedatangan orang tua Tari. Ia sempat mencuri dengar rencana Bu Ratih yang memaksa Pak Dion mengantarnya ke rumah Bu Sinta. Saat mengetahui rencana mereka, Ronald langsung bertindak lebih dulu. Ia tidak akan bersembunyi seperti pengecut lagi. Ia sekarang sedang duduk di ruang tamu sambil memperhatikan jam. Dan benar saja, mereka datang tepat di waktu yang telah diperkirakan Ronald. Mereka masuk dengan mudahnya berkat Pak Dion. "Kamu?" Pak Dion kaget melihat Ronald di rumah itu. Tapi Bu Ratih lebih kaget lagi. Ia bahkan sedikit lupa dengan tujuannya, sampai tidak melihat Bu Sinta dan Nadin yang baru saja keluar dari kamar. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyanya penuh selidik. Ronald tidak langsung menjawab. Memang ini tujuannya. Ia ingin mengalihkan Bu Ratih agar fokus padanya. "Bu Ratih sendiri, kenapa bisa sampai ke sini?" Ronald tampak sangat tenang menghadapinya. "Jawab, Ronald!" tuntut Bu Ratih penuh penekanan. "Karena sudah tertangkap basah
Nadin pulang ke rumah ibunya. Jika kemarin karena khawatir tentang Ronald, kali ini ia khawatir karena Bu Ratih. Ia tidak ingin seseorang menyakiti ibunya. Itu sebabnya ia mau saja menikahi Ronald, demi keamanan ibunya. Ia benar-benar rela menggantikan ibunya menanggung semuanya. Nadin tiba di rumah ibunya saat senja menyingsing. Begitu sampai, ia langsung mencari ibunya. "Ibu!" panggilnya. "Nadin? Ada apa lagi kali ini? Kalian berantem lagi?" selidik Bu Sinta. "Nggak, Bu." Nadin tidak memberi penjelasan, ia langsung memeluk ibunya. "Ada apa, Nad?" Bu Sinta membiarkan putrinya. "Haruskah aku jujur pada Ibu?" "Tentang apa?" "Tentang semuanya, tapi Ibu cukup mendengarkan, jangan melakukan apa pun." "Ya, Ibu janji." Bu Sinta menuntun Nadin menuju sofa. "Kami tidak saling mencintai, Bu. Hubungan kami tidak sehat," lanjut Nadin ketika ia duduk. Bu Sinta kaget, tapi ia tidak ingin membuat Nadin berubah pikiran, jadi ia tetap diam mendengarkan. "Dia menikahiku karena dia pikir kit
Seorang dokter muda sudah menunggu Ronald di depan pintu pemeriksaan, ia menyambut Ronald dengan ramah, mereka juga terlihat akrab. "Ada apa lagi?" tanya dokter itu. "Aku merasa penyakit ini semakin parah saja," Ia sedikit mengomel sambil masuk ke ruangan seolah itu miliknya. dokter itu hanya
Keesokan harinya. Saat bangun tidur, seluruh tubuh Nadin terasa nyeri, terutama kaki. Kepalanya pening dan suhu badannya lebih panas dari biasanya. Sepertinya ia demam. Ia berniat tidur lagi, tapi dering ponsel membuyarkan niatnya. "Halo," sapanya lemah. Nomor tidak dikenal. "Berani juga kam
Keesokan harinya, Nadin mengepak barang untuk pindah ke ibu kota. Ia menyewa kos yang dekat dengan Bramasta lewat media sosial. Ia pastikan semua urusan kepindahan beres hari itu juga. Besoknya, ia berangkat kerja dengan semangat membara. Begitu tiba di pelataran kantor, langkahnya terhenti. Ia me
Tujuan Ronald berkunjung ke kantor Pak Bambang adalah untuk mereview bahan produk yang akan ia gunakan. Sebelumnya, Pak Bambang memang mengirim surel penawaran kerja sama ke Bramasta, perusahaan milik Ronald. Ronald tertarik datang bukan karena produknya. Ia tertarik karena alamat kantor Pak Bamban






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan