Nadin menatap Ronald tidak percaya. Ia langsung menjawab tanpa pikir dua kali. "Saya tidak mau, Pak." "Oh ya? Ternyata kamu berani juga menolak." "Karena kita tidak sedekat itu untuk menikah. Pernikahan harus dibangun dengan rasa cinta." Ronald tahu alasan itu benar. Tapi ia sudah tidak peduli soal cinta. Cintanya terkubur bersama Tari. Yang tersisa hanya dendam. "Ini perintah!" Nadin terhenyak lagi. Sebenarnya ia tahu persis apa tujuan Ronald. "Pernikahan tidak bisa disamakan dengan pekerjaan, Pak. Tidak bisa hanya dengan perintah dari atasan." Ronald berdiri, mendekati Nadin, lalu berbisik, "Bagus juga pendirianmu. Tapi aku ingin melihatmu menderita setiap hari, dua puluh empat jam di depan mataku sendiri," Nadin sangat marah. Ia menggertakkan gigi lalu membalas dengan nada yang sama, "Saya tetap tidak mau." Ronald terkesan mengalah. Ia berjalan kembali ke kursinya lalu duduk. "Oke, kalau begitu," ucapnya santai sambil beralih pada Selfi. "Selfi, aku butuh bantu
Read more