Pintu gerbang besi tinggi berukir klasik di perumahan elit itu terbuka lebar, menyambut kedatangan mobil SUV hitam Arham yang meluncur pelan memasuki pelataran halaman mansion keluarga Tawfeeq. Di dalam mobil, Zara duduk agak kaku sambil meremas jemarinya sendiri, sementara Nenek Ajeng menatap takjub ke arah pilar-pilar tinggi dan taman hijau luas yang mengelilingi bangunan utama.Arham mematikan mesin mobil, lalu bergegas keluar untuk membukakan pintu bagi Nenek Ajeng dan Zara. Di teras depan, Lusi dan Nindy sudah berdiri menunggu dengan senyuman tulus yang merekah di wajah mereka."Selamat datang di rumah, Nenek Ajeng, Zara," sambut Lusi hangat sambil merentangkan tangan merangkul pundak Nenek Ajeng dengan penuh rasa hormat.Nenek Ajeng tersenyum haru, matanya berkaca-kaca melihat ketulusan yang terpancar dari nyonya besar keluarga Tawfeeq itu. "Terima kasih banyak, Nyonya ... Kami merasa sangat merepotkan.""Tidak ada yang merepotkan sama sekali, Nek. Mari masuk, kamar di lant
Magbasa pa