LOGIN"Tiga bulan, Zara. Jadi aku di depan Arham, dan seluruh biaya rumah sakit nenek kamu akan aku jamin." Terjebak dalam konspirasi licik kembarannya, Zara terpaksa masuk ke dalam mansion megah milik Denandra Arham Tawfeeq. Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Gina, tunangan Arham yang materialistis dan kasar. Namun, hidup satu atap dengan duda kaya berusia 40 tahun yang berwibawa dan dingin ternyata tidak mudah. Arham yang awalnya jijik pada "Gina", mulai mencium aroma tubuh yang berbeda, melihat tatapan polos yang asing, dan mendapati gairahnya tersulut setiap kali berada dekat dengan tunangannya yang mendadak jadi pandai menolak. Ketika ketulusan Zara berhasil menjinakkan anak tiri dan menyembuhkan sang mertua, Arham jatuh cinta seutuhnya. Gairah panas tak terbendung pun meledak di antara mereka. Zara menyerahkan segalanya karena cinta, sembari menangis tertahan karena tahu Arham mendesah memanggil nama wanita lain. Kini, badai kebenaran siap menghantam. Gina asli kembali untuk merebut posisinya, mengancam Zara dengan hukum dan penjara. Saat topeng itu terkelupas, apakah sang Alpha akan mengusir Zara sebagai penipu, atau justru memburu sang istri pengganti demi mempertahankan cinta tulus yang sesungguhnya?
View More"Masa lalu saya adalah urusan pribadi saya dengan hukum dan keluarga Tawfeeq, tidak ada hubungannya dengan hak anak Anda untuk mengintimidasi psikologis anak saya di sekolah!" tegas Zara sembari melangkah maju satu langkah, menekan posisi berdiri wanita itu hingga sang lawan terpaksa menahan napasnya sesaat."Jika anak Anda tidak diajarkan cara menghormati privasi dan kehormatan orang lain di rumah, maka jangan terkejut jika anak saya bangkit berdiri untuk memberikan pelajaran mengenai batasan moral yang sah!" tambah Zara dengan intonasi yang kian menusuk saraf pendengaran semua orang di dalam ruangan tersebut.Pak kepala sekolah yang sejak tadi duduk di balik meja kerja besarnya hanya bisa berdeham pelan, menyeka keringat dingin di dahinya melihat ketegasan mutlak yang ditunjukkan oleh calon nyonya besar Tawfeeq Group tersebut. Ia tahu betul siapa Denandra Arham Tawfeeq, dan melihat bagaimana "Gina" pasang badan dengan keberanian yang begitu murni untuk Sean membuat sang kepala sek
Langkah kaki Zara bergaung cepat membelah koridor berlantai granit menuju ruang kepala sekolah. Ia bahkan tidak memedulikan penampilannya yang hanya berbalut blus krem polos dan celana panjang hitam seadanya dengan rambut yang diikat asal-asalan. Bi Sumi berjalan setengah berlari di belakangnya, mencoba mengimbangi langkah tergesa-gesa wanita muda yang memancarkan aura ketegangan luar biasa itu. Pintu kayu berpelitur cokelat tua dengan papan nama perak bertuliskan "Kepala Sekolah" kini berdiri tegap di hadapan mereka, menjadi sekat terakhir yang membatasi ketakutan Zara.Zara mendorong pintu itu tanpa ragu, langsung menyuguhkan pemandangan batin yang seketika meremas jantungnya hingga menyisakan rasa perih yang teramat tajam. Sean duduk di atas sofa kulit hitam sudut ruangan dengan kepala yang tertunduk dalam, bahu kecilnya bergetar konstan menahan isak tangis yang mulai pecah. Noda darah kering masih membekas di bawah lubang hidungnya, berpadu dengan luka lecet kemerahan di pelipis
Keduanya bergulingan di antara sela-sela kolong meja, saling melepaskan pukulan, cengkeraman, serta tendangan acak yang sarat akan luapan emosi mentah khas anak-anak yang sedang mempertahankan harga diri keluarga. Seragam sekolah Sean yang semula rapi kini telah robek pada bagian kancing atas, menyisakan noda debu hitam yang kontras berpadu dengan beberapa luka lecet kemerahan di sekitar permukaan kulit lengannya. Kevin dan anak-anak lain hanya bisa berdiri mengelilingi mereka dengan teriakan-teriakan histeris, tidak berani mendekat karena ngeri melihat sorot mata Sean yang tampak begitu liar dan menakutkan seperti seekor anak singa yang sedang melindungi induknya dari ancaman predator luar."Sean! Rian! Hentikan perbuatan memalukan ini sekarang juga!" sebuah bentakan keras berwibawa dari arah pintu kelas seketika memotong jalannya perkelahian fisik yang kian tidak terkendali tersebut.Bu Widya, wali kelas dua yang bertubuh jangkung dengan kacamata berbingkai hitam, melangkah lebar
Mentari pagi baru saja merangkak naik, menembus celah-celah jendela kaca kelas dua sekolah dasar swasta internasional yang terletak di kawasan premium Jakarta Selatan. Riuh rendah suara anak-anak berkejaran di koridor luar tidak mampu mengusir keheningan yang mendadak tercipta di sudut bangku paling belakang dekat lemari buku. Sean duduk terpaku dengan kedua belah tangan mengepal kuat di atas permukaan meja kayunya, memandangi buku gambar bergambar robot yang kini terabaikan. Sepasang matanya yang bulat besar menatap lurus ke arah tiga anak laki-laki berpakaian seragam serupa yang tengah berdiri mengerumuni mejanya dengan senyuman mengejek yang teramat kentara."Hei, Sean! Aku dengar dari ibuku, calon ibu barumu itu bekas wanita kelab malam ya?" celetuk Rian, anak laki-laki bertubuh paling bongsor di kelas itu sembari melipat kedua tangan di dada dengan gaya angkuh."Ibuku juga bilang begitu waktu sarapan tadi, katanya wanita bernama Gina itu sering masuk koran karena suka buat mas
Aroma gurih sisa kaldu ayam masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan kehangatan uap mentol dari minyak telon yang biasa digunakan untuk meredakan kembung pada perut anak-anak. Arham mendekati meja nakas, jemarinya menyentuh pinggiran mangkuk porselen yang masih menyisakan beberapa sendok
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu! Pergi dari kamarku! Aku benci kamu! Aku benci Tante Gina!" teriak Sean lagi, suaranya mulai serak akibat tekanan emosi yang terlalu besar. Ia menyambar sebuah buku cerita tebal dari atas meja kecil dan kembali melemparkannya, meskipun kali ini arahnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews