Bus kota berukuran sedang berhenti tepat di halte kecil dekat mulut gang sempit yang dipenuhi deretan pohon karsen rimbun. Zara melangkah turun terlebih dahulu sambil memegang erat tali ransel di bahunya, lalu berbalik membantu Nenek Ajeng menuruni tangga bus dengan hati-hati. Udara sore kawasan pinggiran kota yang berdebu langsung menyapa penciuman mereka, membawa aroma khas minyak wangi murahan dan asap pembakaran sampah warga sekitar."Kita benar-benar mau kembali ke lingkungan lama ini, Neng?" tanya Nenek Ajeng dengan suara gemetar, menatap jalanan aspal berbintik lubang di hadapan mereka."Iya, Nek," jawab Zara lembut, menggandeng lengan wanita renta itu menyusuri jalan setapak yang sangat akrab di ingatan mereka. "Di sini biaya hidupnya masih masuk akal buat kantong kita sekarang, dan setidaknya kita punya kenangan baik sama beberapa tetangga lama."Langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan sepetak tanah kosong tempat bangunan rumah kontrakan lama mereka dulu berdiri. Za
Leer más