"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saat melahirkanmu di klinik desa dulu ... kamu terlahir sebagai anak tunggal. Kamu tidak pernah memiliki kakak, adik, apalagi seorang saudara kembar yang terpisah seperti yang ada di video-video internet itu. Pernikahan orang tuamu dulu memang sangat sederhana dan serba kekurangan dalam hal ekonomi, namun mereka tidak akan pernah sudi memisahkan atau membuang anak kandung mereka sendiri jika memang terlahir kembar. Jadi, Nenek minta kepadamu, buang jauh-jauh pikiran aneh dan fiktif itu dari kepala indahmu. Kamu adalah satu-satunya Zara milik Nenek, milik Ayah, dan milik Ibu. Paham, Nak?"Zara menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Nenek Ajeng, berusaha mencari sekecil apa pun celah kebohongan
Baca selengkapnya