Sepeninggal Nindy, kamar rawat kembali diselimuti keheningan yang syahdu. Zara melangkah kembali ke samping tempat tidur neneknya, merapikan letak bantal dan selimut."Hati anak itu sebenarnya baik, cuma tertutup emosi sementara," celetuk Nenek Ajeng pelan dari balik sungkup oksigennya.Zara tersenyum seraya mengangguk. "Iya, Nek. Nindy memang sangat menyayangi Mas Arham, makanya dia mudah terpengaruh oleh omongan Gina.""Lalu soal ucapanmu tadi ... Kamu benar-benar sudah memantapkan hati buat meninggalkan kota ini setelah Nenek sembuh?" tanya Nenek Ajeng menatap lurus sepasang mata cucunya.Zara terdiam sejenak, pandangannya menerawang menembus jendela kamar yang memperlihatkan langit siang yang cerah. Bayangan aura ketegasan Arham, sentuhan hangat jemari pria itu, hingga tangisan kecil Sean seolah berputar mengelilingi pikirannya."Ini jalan terbaik buat kita semua, Nek," desis Zara pelan, menyembunyikan rasa sesak yang merayap di dadanya. "Zara tidak mau jadi penghambat atau
Read more