Pagi itu, suasana di ruang kerja Dewa terasa lebih berat dari biasanya. Chika masuk dengan langkah waspada, membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang Dewa minta sejak insiden "Ujian Kafein".Dewa tidak ada di kursinya. Pintu ruang rapat pribadinya terbuka sedikit, menunjukkan bahwa pria itu sedang menerima telepon penting. Chika bernapas lega, setidaknya ia punya waktu lima menit untuk membersihkan meja tanpa harus merasa diawasi oleh sepasang mata elang itu.Namun, saat ia hendak mengangkat tumpukan berkas yang berserakan, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak biasa.Di sudut meja, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe—bukan yang ia kenali kemarin, tapi seri yang jauh lebih langka. Di sampingnya, sebuah dompet kulit buaya terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang sangat tebal, serta kartu kredit Black Card yang tergeletak begitu saja.Chika mematung. Ini gila. Orang se'epik Dewangga tidak mungkin seceroboh ini meninggal
Read more