"Ardika, dengar baik-baik, ada kami di sini, kami nggak akan diam saja melihatmu mencoba untuk menjerat para nona lainnya!"Jeslin juga berbicara seolah-olah dirinya yang menjunjung tinggi kebenaran, seakan-akan dirinya telah melakukan hal yang sangat benar.Ardika menghela napas, lalu berkata, "Jeslin, kalau bukan karena mempertimbangkan ayahmu, aku benar-benar ingin melayangkan dua tamparan ke wajahmu.""Dan Kavano, kamu benar-benar mengandalkan ayahmu, memainkan berbagai macam trik untuk cari mati, ya.""Pffttt!""Memangnya kamu bisa apa?"Kavano dan Jeslin sama sekali tidak menganggap serius ucapan Ardika, bahkan Jeslin berteriak dengan keras, "Ayo, sini, coba saja kalau kamu berani menamparku.""Benar-benar konyol. Aku mengungkap karakter aslimu, kamu malah ingin menamparku karena marah saking malunya?""Aku mau lihat apakah kamu berani melakukannya di hadapan begitu banyak orang ...."Sebelum Jeslin bisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja seorang wanita menghampirinya denga
Read more