Melihat pemandangan itu, Mahesa benar-benar terkejut. Beruntung dia sudah bersiap sejak awal sehingga gelombang ledakan tadi tidak sampai melukainya. Namun, Prasasti Takdir telah hancur berkeping-keping.Mahesa menatap pecahan batu yang berserakan di tanah dengan wajah penuh keheranan. Dia membungkuk, mengambil salah satu pecahannya, lalu bergumam pelan, "Bagaimana mungkin... bagaimana bisa sampai seperti ini?"Semakin dipikirkannya, raut wajah Mahesa semakin suram. "Jangan-jangan... asal-usul Nathan merupakan rahasia langit yang memang tidak boleh diungkap?" bisiknya lirih. "Rahasia langit memang tidak boleh disentuh..."Tubuh Mahesa sedikit bergetar. Setelah terdiam cukup lama, dia melempar pecahan batu itu begitu saja."Nathan... kau jelas bukan orang biasa..."Begitu kata-kata itu terucap, sosok Mahesa menghilang dalam sekejap dari puncak gunung.***Sementara itu, di gerbang Ordo Sancta, Levan berjuang bangkit dari dasar kawah dengan tubuh penuh luka. Darah terus menetes dari sud
Baca selengkapnya