Begitu kata-kata Dewa Racun yang sempat terngiang di telinga Baraka. Untuk meyakinkan kebenaran tentang racun yang mengenal leher Rara Santika, Baraka pun segera ajukan pertanyaan ketika Rara Santika mulai meraih lengannya dan minta diantar kembali ke reruntuhan biara."Perasaan apa yang kau alami ketika serangan itu mengenaimu?""Hmmm... perasaan takut. Takut sekali. Melihat batu saja takut. Tapi, ah... sudahlah. Perasaan itu sekarang sudah tak ada lagi padaku. Mengapa harus kau hiraukan?""Karena rasa takut yang timbul itulah ciri khusus pada penderita 'Racun Simalakama'. Kau akan mati, Santika!""Tidak mungkin. Kau akan lihat sendiri hasilnya setelah kulakukan semadi di ruang bawah reruntuhan biara itu! Antarkan aku ke sana. Temanilah aku, Baraka,"Rara Santika bernada manja dengan suaranya yang masih sedikit parau. Baraka menganggap perubahan suara parau itu akibat dari terkena racun tersebut."Hei, mengapa tak kau cari penyerangmu itu!
Read more