Tangisan itu akhirnya terdengar.Bukan jeritan Aishwa.Bukan pula suara panik Noah.Tangisan kecil—rapuh, nyaring, dan hidup.Seisi ruangan seperti berhenti bernapas selama satu detik sebelum akhirnya dunia kembali bergerak.“Alhamdulillah…” suara Kiara bergetar.“Ais…” bisik Noah, matanya membelalak, tubuhnya kaku seperti patung.Eliza tersenyum lebar, matanya ikut berkaca-kaca. “Selamat, Noah. Anakmu lahir dengan selamat.”Kalimat itu menghantam dada Noah jauh lebih keras dari teriakan, cengkeraman, atau rasa sakit apa pun yang ia alami sejak tadi.Anakmu.Putramu.Noah terduduk lemas di kursi, dadanya naik turun tak beraturan. Nafas yang sejak tadi ia tahan—karena panik, takut, dan cemas—akhirnya keluar panjang, berat, seperti orang yang baru saja selamat dari tenggelam.“Dia… dia nangis…” gumam Noah pelan, nyaris tidak percaya.“Iya,” jawab Kiara lembut sambil mengusap rambut putrinya yang kelelahan. “Itu suara paling indah yang pernah mommy dengar.”Aishwa terbaring lemah. Rambut
Magbasa pa