Yura berdiri di dekat jendela besar ruang keluarga mansion itu, mendorong stroller bayi dengan gerakan pelan. Bayi tampan di dalamnya tertidur pulas, wajahnya tenang, bulu matanya lentik—benar-benar mewarisi wajah kedua orang tuanya.Di sisi lain, Michael duduk santai di sofa, menggendong bayi perempuan dengan hati-hati. Tangannya besar, tapi pelukannya lembut. Bayi itu terjaga, matanya terbuka lebar, menatap dunia dengan ekspresi polos yang membuat siapa pun ingin tersenyum.Michael menunduk, menatap wajah mungil itu lama.“Akhirnya,” katanya pelan tapi penuh kepuasan, “adikku yang sudah tua itu… punya anak juga.”Yura langsung menoleh. “Hei! Jangan gitu dong ngomongnya. Walaupun iya,” tambahnya cepat sambil terkekeh. “Adikku yang cerewet akhirnya jadi ibu juga.”Ia menunduk ke stroller, menatap bayi laki-laki itu dengan senyum lembut. Tangannya refleks merapikan selimut.“Dan ini,” lanjut Yura, “anaknya Aishwa. Aku masih nggak percaya. Dulu dia yang paling ribet, paling banyak atura
Magbasa pa