"Tetua Agung, jangan khawatir. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa sekalipun, saya pasti akan meraih posisi pertama!" Wajah Calder Sanctum saat mengucapkan itu bukan wajah seseorang yang sedang berjanji dengan tenang. Rahangnya mengeras, matanya terbuka lebar lebih dari biasanya, dan ada bara di baliknya yang terlalu panas dan terlalu terang untuk disebut sekadar tekad. Kata yang lebih tepat untuk itu adalah fanatisme. Dengan itu, ia berbalik dan meninggalkan lapangan. Di belakangnya, lelaki tua itu menatap kepergian Calder. Sorot matanya tidak berubah, tidak hangat dan tidak dingin, hanya memandang. ** Di antara seluruh keluarga besar yang mendiami kawasan terpencil ini, ada dua yang berbeda dari yang lain. Keluarga Sanctum dan Keluarga Shadowmist. Bukan sekadar berbeda dalam hal kekuatan, meski itu sudah cukup alasan. Leluhur mereka meninggalkan legenda yang tidak bisa dibantah di Benua Valorisia, keberadaan yang sudah menyentuh sesuatu yang dekat dengan kata dewa, soso
Read more