Di rumah kecil yang berdiri di ujung desa itu, pagi datang dengan cara yang berbeda bagi Tuan Alex. Tidak ada suara deru mobil mewah, tidak ada langkah kaki para ART yang tergesa, tidak pula dering ponsel tanpa henti. Yang terdengar hanya kokok ayam, angin menyapu dedaunan, dan sesekali suara Bayu yang merengek pelan di dalam gendongan Amara.Tuan Alex duduk di kursi rodanya di teras, menatap jalan tanah yang masih basah oleh embun. Udara desa terasa segar, menusuk paru-paru dengan cara yang menenangkan. Ada rasa asing, tentu saja, tapi juga ada ketenangan yang selama ini tidak pernah ia rasakan, bahkan ketika hidupnya dikelilingi kemewahan.“Mas, dingin. Masuk dulu,” ujar Amara lembut dari balik pintu, Bayu sudah kembali terlelap di dadanya.Tuan Alex tersenyum tipis. “Sebentar. Aku ingin menikmati pagi,” jawabnya jujur.Amara tidak memaksa. Ia paham, suaminya sedang berdamai dengan hidup yang baru—hidup yang jauh dari segala kebisingan kota, namun juga jauh dari kuasa dan kejayaan y
Last Updated : 2026-01-26 Read more