Pagi itu datang dengan langkah pelan, seolah rumah besar itu sendiri masih ragu untuk benar-benar terbangun.Cahaya matahari menembus tirai jendela ruang makan, memantul di lantai marmer yang mengilap. Biasanya, pagi di rumah ini berjalan kaku, teratur, dan dingin. Namun hari ini—ada sesuatu yang berbeda. Bahkan udara pun terasa berubah.Tuan Alex turun lebih awal dari biasanya.Langkahnya tenang, tidak tergesa. Wajahnya tampak lebih lembut, garis tegas di dahinya seolah mengendur. Para pelayan yang melihatnya saling bertukar pandang, namun tak seorang pun berani bertanya. Mereka hanya menunduk hormat seperti biasa.Di ruang makan, Anisa sudah duduk rapi. Gaun paginya anggun, wajahnya tersenyum tipis—senyum yang terlatih, bukan senyum yang lahir dari hati.Alex duduk di kursi seberangnya.“Pagi,” ucap Alex.“Pagi,” jawab Anisa singkat.Biasanya, Alex akan langsung membuka tablet atau ponselnya, membaca laporan sebelum berangkat kerja. Tapi pagi ini, ia meletakkan ponselnya di samping
Last Updated : 2025-12-31 Read more