Hari-hari berlalu dengan langkah yang terasa lambat bagi Amara.Pagi itu, sinar matahari masuk lewat jendela ruang makan, menyinari meja panjang yang sudah dipenuhi aneka hidangan. Aroma sup hangat, tumisan sayur, dan lauk-lauk yang biasanya membuat perut lapar justru berubah menjadi ujian berat bagi Amara.Baru saja ia duduk, rasa mual itu kembali menyerang.Perutnya terasa seperti diaduk-aduk, bergejolak tanpa ampun. Dadanya sesak, tenggorokannya panas. Tangannya refleks menutup mulut saat aroma makanan semakin menyengat.“Uh…” Amara menunduk cepat, menekan bibirnya rapat-rapat.Mbok Mun yang berdiri tak jauh langsung waspada. “Amara, kamu kenapa lagi, Nak?”Amara menggeleng pelan, wajahnya pucat pasi. “Tidak apa-apa, Mbok…”Namun ucapannya berbanding terbalik dengan kondisinya. Keringat dingin muncul di pelipis, tubuhnya sedikit gemetar. Ia mencoba mengambil sendok, tetapi tangannya terlalu lemah. Bau nasi hangat saja sudah membuat dadanya berguncang.Ia menutup mulut lagi, kali in
Last Updated : 2026-01-06 Read more