Situasi menjelma semakin darurat. Goncangan yang luar biasa hebat di dalam gua nyaris tak memberikan waktu berpikir. Suara deguman batu kapur yang berjatuhan dari atas seakan saling bersahutan, menciptakan irama sumbang yang menyentak gendang telinga. Selain itu, butiran halus dari pecaha batur kapur yang menyerupai pasir ikut pula berguguran, dan di lantai gua mulai timbul tanda-tanda bahwa tanah itu sebentar lagi akan rengkah.“Kau harus keluar dari sini sekarang, Giandra!” Jaka Purnama mendesak. Dadakan, si pendekar berjubah putih itu mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia lakukan.“Wuuut!”Sambil menghentak napas ke diafragma, Jaka Purnama memukulkan telapak tangan kanannya, gelora energi kencang pun terpancar, menghantam tubuh Giandra dengan serta-merta.Dalam keadaan panik antara menghindari jatuhan batur kapur dan menjaga keseimbangan kaki di lantai yang hampir pecah, Giandra tak menduga kalau sang ayah akan memukulnya diam-diam. Ener
더 보기