Seminggu kemudian, Zola sudah lihai membuat kopi dan mulai menguasai dasar-dasar kerajinan kayu. Ia bekerja dengan intensitas yang membuatnya jarang punya waktu untuk berpikir tentang Haidar. Namun, memori Kirana tetap menjadi duri yang menusuk. Siang itu, kafe sedang ramai dengan ibu-ibu muda yang baru selesai menjemput anak sekolah. Zola, yang sedang membawa nampan berisi tiga cangkir latte, melihat ke arah pintu. Tiba-tiba, jantungnya mencelos. Seorang wanita muda masuk, memegang tangan seorang gadis kecil. Rambut gadis itu dikepang dua, mengenakan seragam sekolah dasar dan membawa ransel berwarna merah muda. Gadis itu, dari belakang, tampak sangat mirip Kirana. Postur tubuhnya, cara dia memegang tangan ibunya—semuanya memicu memori yang menyakitkan. Zola membeku di tengah ruangan, nampan di tangannya bergetar. "Itu bukan Kirana. Itu bukan Kirana," ia mencoba meyakinkan dirinya. Namun, naluri keibuan yang selama ini ia tekan memberontak. Ia ingin lari, memeluk gadis it
Last Updated : 2026-01-07 Read more