مشاركة

Bab 23.

مؤلف: Imamah Nur
last update آخر تحديث: 2026-01-08 23:51:56

"Lana! Nak Lana!" Ibu Anwar menepuk-nepuk pipi Zola. Zola menggeleng cepat, keringat dingin di pelipis semakin bercucuran. Tubuhnya bergerak gelisah di atas brankar. Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah dikejar oleh makhluk tak kasat mata.

"Tidak ... tidak." Zola terus menggeleng dengan mata terpejam.

"Mati! Kau harus mati!" suara Raisa melengking, semakin lama semakin menusuk gendang telinga

Zola.

"Oh atau kamu ingin hidup dan melihat Kirana menderita?"

Gelengan kepala Zola semakin cepat, dia seperti orang kesurupan.

"Lana! Bangun Nak!" Ibu Anwar panik, segera ia berlari keluar ruang rawat dan menemui dokter.

"Dia sumber kebahagiaanmu, kan? Bagaimana kalau aku menyiksa Kirana sebagai permulaan, hemm?"

"Kamu gila ya Raisa, Kirana itu anak kandungmu!" Zola benar-benar syok, Raisa bisa tega dengan putrinya sendiri hanya demi bisa menyakiti Zola lebih dalam lagi.

"Apapun yang menjadi penghalang harus disingkirkan." Raisa menyeringai.

"Tidak!!!!!" Zola berteriak kenca
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 28

    Setelah beberapa hari Zola keluar dari rumah sakit, ia kembali beraktivitas meskipun sempat dilarang oleh Ibu Anwar. Ia tidak ke kafe melainkan ke tempatnya mengikuti kursus. Ia menggesekkan amplas kasar ke permukaan kayu jati daur ulang. Aroma kayu yang hangat dan debu halus yang beterbangan terasa menenangkan, jauh lebih menenangkan daripada aroma maskulin Haidar yang selalu menyelimuti rumah lamanya dan menjadi candu di awal-awal pernikahan mereka. Sudah dua minggu sejak ia memulai kursus singkat membuat perabotan kayu di bengkel kecil milik seorang tukang kayu tua. “Lana, kamu harus lebih sabar dengan seratnya,” tegur Pak Karto, instruktur kursus, yang sedang mengawasi dari balik kacamatanya. “Kayu ini sudah tua, dia punya cerita. Kamu tidak bisa memaksanya mulus dalam satu hari.” Zala tersenyum tipis. “Saya tahu, Pak. Tapi rasanya kalau saya tidak cepat selesai, cerita itu akan terus menghantui saya.” “Justru. Kamu harus dengarkan ceritanya, Nak. Kayu yang retak bukan berar

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 27

    “Kenapa kamu tiba-tiba kembali ke sini? Kenapa kamu harus muncul di sekolah Kirana, di depan Mama?” Haidar bangkit, suaranya pelan tapi penuh ancaman. “Kamu bilang kamu hanya ingin melihat Kirana bahagia. Tapi kenapa kamu harus membuat Zola merasa tidak nyaman sampai dia lari?” Raisa berdiri, mencoba mempertahankan ketenangannya. “Tunggu dulu, Haidar. Jangan salahkan aku. Zola itu terlalu sensitif. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini ibu kandung Kirana. Dia cemburu, Dar! Wajar kalau dia lari, dia memang tidak punya mental sekuat itu.” “Mental sekuat apa? Mental yang harus menahan fitnah dari ibu kandung anakku sendiri?” Haidar melangkah mendekat. “Zola tidak pernah cemburu dengan Kirana tapi kamu yang selalu membuatnya cemburu. Dia mencintai Kirana lebih dari dirinya sendiri. Dia pergi karena dia takut padaku, Raisa. Dan kenapa dia takut? Karena kamu terus memanipulasiku. Kamu terus mengisi kepalaku, membuatku berpikir Zola adalah penghalang kebahagiaan Kirana!”

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 26

    Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik Inang?" Nyonya Sinta meraih tespek dari tangan Raisa dan memeriksanya. Raisa dan Nyonya Sinta sama-sama melihat ke arah pembantu Haidar. Wajahnya Bik Inang pucat seketika. Rasa takutnya kembali menyeruak. Ia takut Raisa memfitnah dirinya dan berakhir pada pemecatan oleh Haidar ataupun Nyonya Sinta langsung. Otak Bik Inang langsung merespon pada ucapan Raisa tadi yang masih melekat di kepalanya. 'Kamu akan aku pecat.' Bik Inang menunduk, kedua tangannya yang terkepal, lemah dan gemeter. Seluruh badannya tampak tegang. "Bukan Ma." Jawaban Raisa membuat Bik Inang menghela napas lega. Raisa melirik pada wanita itu dan tersenyum licik. "Terus punya siapa?" cerca Nyonya Sinta, tidak tahan den

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 25

    "Apa maksudmu Raisa? Kamu menekanku?" Tatapan Haidar tajam menusuk. Raisa mengangkat kedua bahu. "Anggap saja begitu," jawabnya santai. Haidar membuang napas, wajahnya tampak kesal. "Dari dulu sampai sekarang kamu enggak pernah berubah ya? Kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau meskipun dengan cara licik sekalipun." Haidar menghempaskan tubuhnya di samping Kirana. "Kalau tahu akan begini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu masuk kembali dalam kehidupanku meski untuk Kirana sekali pun." Haidar sangat geram. "Sudah terlanjur Haidarku, Sayang. Semua sudah terjadi dan kamu memang masih ditakdirkan untukku. Jadi, Tuhan mengembalikan kita pada poros takdirNya. Zola sendri hanya ditakdirkan untuk menjadi pendamping sementara!"Haidar bangkit, dan melemparkan tas Raisa ke dinding. "Pulang sana, jangan sampai aku murka!" bentak Haidar. Raisa terkejut tapi hanya untuk sementara, setelahnya dia menyunggingkan senyuman manis. "Kamu masih kayak dulu ternyata, perhatian. Ya aku akan pul

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 24

    Hati Kirana ingin menolak tapi gerakannya berbanding terbalik. Ia mengangguk lemah ketika tatap mata Raisa kembali menajam. "Bagus. Ibu suka kalau kamu menurut anak manis." Raisa mengusap lembut rambut Kirana. Namun Kirana merasa terancam dengan sentuhan Raisa. Raisa duduk pelan di samping Kirana dan mulai menyuap nasi ke mulut putrinya. Kirana membuka mulut dengan air mata yang terus menetes. Ia mengunyah perlahan, meskipun nafsu makannya semakin menghilang. Ia kesulitan menelan bubur yang disuapi Raisa, seolah ia menelan duri dalam mulutnya. Raisa mengusap air mata Kirana dan berkata, " Ibu enggak suka lihat kamu nangis-nangis begini." Kirana terdiam seketika, kunyahannya ikut berhenti. "Kalau ada Ibu kamu harus selalu tersenyum." Kirana langsung memaksakan senyumannya. "Bagus, dan ingat jangan pernah mengadu sama Ayah apapun yang dikatakan atau dilakukan Ibu terhadapmu. Kalau tidak kamu tidak akan bisa melihat Zola seumur hidup." Kirana syok, namun mengangguk juga.

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 23.

    "Lana! Nak Lana!" Ibu Anwar menepuk-nepuk pipi Zola. Zola menggeleng cepat, keringat dingin di pelipis semakin bercucuran. Tubuhnya bergerak gelisah di atas brankar. Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah dikejar oleh makhluk tak kasat mata. "Tidak ... tidak." Zola terus menggeleng dengan mata terpejam. "Mati! Kau harus mati!" suara Raisa melengking, semakin lama semakin menusuk gendang telinga Zola. "Oh atau kamu ingin hidup dan melihat Kirana menderita?" Gelengan kepala Zola semakin cepat, dia seperti orang kesurupan. "Lana! Bangun Nak!" Ibu Anwar panik, segera ia berlari keluar ruang rawat dan menemui dokter. "Dia sumber kebahagiaanmu, kan? Bagaimana kalau aku menyiksa Kirana sebagai permulaan, hemm?" "Kamu gila ya Raisa, Kirana itu anak kandungmu!" Zola benar-benar syok, Raisa bisa tega dengan putrinya sendiri hanya demi bisa menyakiti Zola lebih dalam lagi. "Apapun yang menjadi penghalang harus disingkirkan." Raisa menyeringai. "Tidak!!!!!" Zola berteriak kenca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status