Share

BAB 29.

Author: Imamah Nur
last update Last Updated: 2026-01-14 22:56:57

Sore hari, hujan menggantung di langit. Langit yang seharusnya berwarna merah dan oranye, kini berwarna abu-abu dan gelap. Semakin lama awan-awan hitam bertebaran di atas sana, menunggu waktunya terjatuh.

"Pak Karto, sepertinya saya harus pulang sekarang. Cuacanya tidak mendukung untuk tetap bertahan di sini," ujar Zola sembari membereskan peralatan kemudian mencuci tangan dan mengelapnya.

"Ya, Nak. Kamu harus pulang sekarang. Jangan sampai terjebak hujan," sahut Pak Karto, lalu menatap sekitar yang mulai gelap.

Zola mengangguk dan segera bersiap-siap. Ia mengeluarkan motor seken yang ia beli dengan uang Haidar dari salah satu ATM yang tidak sengaja terbawa. Zola pikir tidak masalah, anggap saja itu sebagai pesangon atas dirinya yang selama ini telah mengabdi dan melayani segala macam tuntutan Haidar dalam rumah tangganya. Toh Zola hanya mengambil sebagian isi dari ATM itu saat dirinya masih belum bekerja dan tinggal di rumah kosan, sebelum akhirnya pindah ke rumah Ibu Anwar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 30

    Haidar sedang menatap layar laptopnya, di mana laporan mingguan detektif swasta terpampang dengan statistik yang menyedihkan. Ia membiarkan laporan itu terbaca, tetapi perhatiannya terfokus pada selembar kertas yang ia pegang, hasil printout dari bank. “Ini benar-benar yang terakhir?” tanya Haidar, suaranya serak karena kurang tidur. Di depannya duduk Pak Jaya, detektif swasta berwajah datar yang sudah ia sewa selama satu bulan. Ya, Haidar memutuskan untuk menyewa detektif setelah merasa semua suruhannya tidak ada yang becus mencari Zola. “Betul, Tuan Haidar,” jawab Pak Jaya tanpa basa-basi. “Penarikan tunai terakhir, dua minggu lalu. Di ATM Bank Mandiri cabang Maribaya. Jumlahnya hanya 4 jutaan saja, mungkin hanya sekedar untuk kebutuhan menyambung hidup." Haidar memicingkan mata pada alamat kota kecil di tepi pantai yang tertera di kertas itu. “Maribaya? Jauh sekali. Ini kota mana?” “Sebuah kota pelabuhan yang lumayan sepi, Tuan. Tapi itu adalah petunjuk fisik pertama yang kita

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 29.

    Sore hari, hujan menggantung di langit. Langit yang seharusnya berwarna merah dan oranye, kini berwarna abu-abu dan gelap. Semakin lama awan-awan hitam bertebaran di atas sana, menunggu waktunya terjatuh. "Pak Karto, sepertinya saya harus pulang sekarang. Cuacanya tidak mendukung untuk tetap bertahan di sini," ujar Zola sembari membereskan peralatan kemudian mencuci tangan dan mengelapnya. "Ya, Nak. Kamu harus pulang sekarang. Jangan sampai terjebak hujan," sahut Pak Karto, lalu menatap sekitar yang mulai gelap. Zola mengangguk dan segera bersiap-siap. Ia mengeluarkan motor seken yang ia beli dengan uang Haidar dari salah satu ATM yang tidak sengaja terbawa. Zola pikir tidak masalah, anggap saja itu sebagai pesangon atas dirinya yang selama ini telah mengabdi dan melayani segala macam tuntutan Haidar dalam rumah tangganya. Toh Zola hanya mengambil sebagian isi dari ATM itu saat dirinya masih belum bekerja dan tinggal di rumah kosan, sebelum akhirnya pindah ke rumah Ibu Anwar.

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 28

    Setelah beberapa hari Zola keluar dari rumah sakit, ia kembali beraktivitas meskipun sempat dilarang oleh Ibu Anwar. Ia tidak ke kafe melainkan ke tempatnya mengikuti kursus. Ia menggesekkan amplas kasar ke permukaan kayu jati daur ulang. Aroma kayu yang hangat dan debu halus yang beterbangan terasa menenangkan, jauh lebih menenangkan daripada aroma maskulin Haidar yang selalu menyelimuti rumah lamanya dan menjadi candu di awal-awal pernikahan mereka. Sudah dua minggu sejak ia memulai kursus singkat membuat perabotan kayu di bengkel kecil milik seorang tukang kayu tua. “Lana, kamu harus lebih sabar dengan seratnya,” tegur Pak Karto, instruktur kursus, yang sedang mengawasi dari balik kacamatanya. “Kayu ini sudah tua, dia punya cerita. Kamu tidak bisa memaksanya mulus dalam satu hari.” Zala tersenyum tipis. “Saya tahu, Pak. Tapi rasanya kalau saya tidak cepat selesai, cerita itu akan terus menghantui saya.” “Justru. Kamu harus dengarkan ceritanya, Nak. Kayu yang retak bukan berar

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 27

    “Kenapa kamu tiba-tiba kembali ke sini? Kenapa kamu harus muncul di sekolah Kirana, di depan Mama?” Haidar bangkit, suaranya pelan tapi penuh ancaman. “Kamu bilang kamu hanya ingin melihat Kirana bahagia. Tapi kenapa kamu harus membuat Zola merasa tidak nyaman sampai dia lari?” Raisa berdiri, mencoba mempertahankan ketenangannya. “Tunggu dulu, Haidar. Jangan salahkan aku. Zola itu terlalu sensitif. Dia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku ini ibu kandung Kirana. Dia cemburu, Dar! Wajar kalau dia lari, dia memang tidak punya mental sekuat itu.” “Mental sekuat apa? Mental yang harus menahan fitnah dari ibu kandung anakku sendiri?” Haidar melangkah mendekat. “Zola tidak pernah cemburu dengan Kirana tapi kamu yang selalu membuatnya cemburu. Dia mencintai Kirana lebih dari dirinya sendiri. Dia pergi karena dia takut padaku, Raisa. Dan kenapa dia takut? Karena kamu terus memanipulasiku. Kamu terus mengisi kepalaku, membuatku berpikir Zola adalah penghalang kebahagiaan Kirana!”

  • Mas, Ayo Bercerai!   Bab 26

    Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik Inang?" Nyonya Sinta meraih tespek dari tangan Raisa dan memeriksanya. Raisa dan Nyonya Sinta sama-sama melihat ke arah pembantu Haidar. Wajahnya Bik Inang pucat seketika. Rasa takutnya kembali menyeruak. Ia takut Raisa memfitnah dirinya dan berakhir pada pemecatan oleh Haidar ataupun Nyonya Sinta langsung. Otak Bik Inang langsung merespon pada ucapan Raisa tadi yang masih melekat di kepalanya. 'Kamu akan aku pecat.' Bik Inang menunduk, kedua tangannya yang terkepal, lemah dan gemeter. Seluruh badannya tampak tegang. "Bukan Ma." Jawaban Raisa membuat Bik Inang menghela napas lega. Raisa melirik pada wanita itu dan tersenyum licik. "Terus punya siapa?" cerca Nyonya Sinta, tidak tahan den

  • Mas, Ayo Bercerai!   BAB 25

    "Apa maksudmu Raisa? Kamu menekanku?" Tatapan Haidar tajam menusuk. Raisa mengangkat kedua bahu. "Anggap saja begitu," jawabnya santai. Haidar membuang napas, wajahnya tampak kesal. "Dari dulu sampai sekarang kamu enggak pernah berubah ya? Kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau meskipun dengan cara licik sekalipun." Haidar menghempaskan tubuhnya di samping Kirana. "Kalau tahu akan begini, aku tidak akan pernah membiarkan kamu masuk kembali dalam kehidupanku meski untuk Kirana sekali pun." Haidar sangat geram. "Sudah terlanjur Haidarku, Sayang. Semua sudah terjadi dan kamu memang masih ditakdirkan untukku. Jadi, Tuhan mengembalikan kita pada poros takdirNya. Zola sendri hanya ditakdirkan untuk menjadi pendamping sementara!"Haidar bangkit, dan melemparkan tas Raisa ke dinding. "Pulang sana, jangan sampai aku murka!" bentak Haidar. Raisa terkejut tapi hanya untuk sementara, setelahnya dia menyunggingkan senyuman manis. "Kamu masih kayak dulu ternyata, perhatian. Ya aku akan pul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status