Malam harinya.“Rafa, makan yuk! Ibu sudah masak ayam goreng kesukaan Rafa,” panggil Ibu dari balik pintu kamar.Biasanya aku akan langsung melompat senang jika Ibu memasak ayam goreng. Tapi kali ini, aku sama sekali tidak berminat. Aku hanya menoleh pelan ke arah pintu tanpa berniat bergeming.“Rafa nggak lapar, Bu,” jawabku dingin.Ibu membuka pintu, menatapku lama dengan kening berkerut penuh cemas. Ibu melangkah menghampiri meja belajarku. “Ada apa, Nak? Rafa sakit?”Aku menyentakkan tubuhku mengelak saat tangan Ibu hendak mengusap pundakku.Gerakan refleksku membuat langkah Ibu terhenti seketika. Raut wajahnya berubah drastis. Matanya mendadak berkaca-kaca.“Kenapa, Sayang?” Ibu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil mencoba mengulas senyum, meski air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Biasanya, aku akan langsung menghambur ke dalam pelukan hangat itu. Tapi malam ini, hatiku terasa sangat panas dan keras. Aku memalingkan wajah, membiarkan posisi tangan Ibu mengg
Read more