Sakinah kembali tersenyum, kali ini senyumnya terlihat tulus. “Terima kasih banyak, Mbak.” Aku kembali mengangguk. “Aku minum, Mbak.” Dia mengambil gelas di hadapannya. Lalu meneguknya dengan pelan. “Senang sekali bisa menyelesaikan masalah ini dengan Mbak Ratih.” Dia tersenyum ramah. Lalu, tatapannya beralih menatap ke dalam kedai. "Mbak... kalau boleh, sebelum aku pulang, aku punya satu permohonan lagi. Bolehkan aku bertemu dengan Rafa? Aku... aku hanya ingin melihat anak itu secara langsung. Aku membawa sedikit oleh-oleh untuknya."Permintaan itu seketika membuat naluri keibuanku waspada. Jantungku kembali berdesir aneh. Ada bagian dari diriku yang berteriak untuk menolak. Namun, melihat wajah Sakinah yang begitu memelas, aku mencoba meredam prasangka burukku."Rafa sedang main di belakang," jawabku perlahan, menimbang-nimbang keputusan. "Mbak boleh bertemu dengannya. Tapi, kita mengobrol di sini saja, di warung seblak ECO ini. Aku akan panggilkan Rafa.”Sakinah mengangguk c
Read more