Alma terdiam di tempat ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Namun tubuhnya segera diliputi kehangatan begitu seseorang merengkuhnya dalam pelukan erat. “Alma … kamu baik-baik aja, kan? Jangan dengerin kata-kata Arhan barusan. Dia udah nggak waras. Semua orang tahu dari penampilannya. Percaya deh, nggak ada yang akan memandang serius omongan orang yang sudah kehilangan akal kayak gitu.” Suara itu, suara Septiana. Tenang, tegas, tapi juga lembut. Pelukan dokter psikolog yang biasanya galak itu terasa menenangkan. Alma terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. Bahunya masih bergetar, tetapi perlahan jantungnya kembali berdetak lebih teratur. “Terima kasih, Septiana …” ucapnya lirih, meski matanya masih terasa panas. Septiana melepaskan pelukan, menatap wajah Alma yang tampak pucat. “Dengar ya, kamu nggak salah. Arhan sendiri yang bikin dirinya hancur. Dan sekarang, dia butuh penanganan medis, bukan belas kasihan.” Alma menatap balik, matanya sayu. “Maksudmu?” “Kami, aku sa
Last Updated : 2025-08-31 Read more