LOGINZahra sempat menunduk, pura-pura fokus sama tas di pangkuannya, tapi sudut bibirnya tersenyum kecil. Zean sempat melirik sebentar ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.“Papa Zean, nanti kalau aku udah bisa coding, aku bikin aplikasi buat Bunda deh. Biar Bunda bisa pesan kopi dari rumah, terus langsung nyampe ke meja,” Rayyan mulai berimajinasi.“Wah, mantap! Kalau gitu aku jadi user pertama aplikasimu, Ray,” sahut Zean. “Tapi jangan lupa… bikin fitur promo khusus buat aku ya.”Rayyan cengar-cengir. “Siap, Papa Zean! Kamu nanti dapet diskon seratus persen.”Zahra spontan menoleh. “lho, jangan gitu dong. Kalau semua gratis, siapa yang bayar aplikasinya?”Rayyan garuk-garuk kepala. “Hehe… iya juga ya. Ya udah Papa Zean bayar separo aja deh.”“Deal!” Zean menepuk setir sambil ketawa.Zahra hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu tersenyum tipis. Sesekali matanya melirik Zean, tapi buru-buru dialihkan lagi begitu tatapan mereka hampir beradu.Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah
Sambungan pun terputus. Zahra meletakkan ponselnya di meja samping ranjang, lalu merebahkan diri. Matanya masih basah, tapi kali ini bukan karena amarah atau sedih—melainkan karena hangat. Rasa takut yang tadi membebani hatinya seakan mencair, diganti dengan rasa tenang. Ia menarik selimut, menutup mata, membiarkan lelahnya hilang bersama malam yang kian hening.______Malam berganti pagi. Langit sudah mulai terang ketika Zahra terlonjak dari tidurnya.“Ya ampun!” serunya, panik melihat jam dinding. Jarum sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.Perutnya masih terasa tidak nyaman—datang bulan membuat tubuhnya lebih lemah dari biasanya. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Ia langsung melompat ke dapur.“Bunda, aku udah mandi loh!” Zahwa berlari ke meja makan sambil setengah mengenakan dasi sekolah.“Iya, iya, bentar ya sayang. Sarapannya hampir jadi. Aduh…” Zahra sibuk menggoreng telur sambil menyiapkan roti di toaster.Rayyan muncul dengan wajah santai, kaos oblong dan celana pendek.“B
Jam sudah menunjuk lewat sebelas malam.Di luar, jalanan kompleks tampak lengang. Lampu-lampu jalan sesekali berkelip, dihampiri serangga malam yang berputar-putar di sekitarnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah lembap sisa hujan beberapa jam tadi. Suasana begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara motor yang melintas jauh di jalan besar.Zahra menutup pintu dengan perlahan, seolah takut suara denting kunci mengusik ketenangan malam. Hatinya masih terasa berat, sisa perdebatan barusan membuat dadanya sesak. Ada rasa lega karena tamunya akhirnya pulang, tapi juga gelisah yang menempel di pikirannya.Ia melangkah masuk ke kamar. Lampu kamar menyala temaram, hanya cahaya kuning hangat dari meja kecil di sisi ranjang. Zahra menjatuhkan tubuhnya ke ujung ranjang, lalu menarik napas panjang. Pikirannya penuh, tapi justru hening di sekitarnya membuatnya semakin mendengar degup jantungnya sendiri.Belum sempat menenangkan diri, layar ponselnya menyala. Panggilan masuk video call dar
Dimas diam, kepalanya menolah noleh songong. "Huft. Astagfirullah... " gumam Zahra sembari mengusap kepalanya yang tiba-tiba serasa mengepul. "Ibuk... Maaf kalau perkataan Zahra tadi menyinggung hati ibuk, itu tidak benar sama sekali. Maksud Zahra, Zahra cuma kasihan ibuk kalau kecapean. Tadi pagi sampai Siang ibu udah keluar, ini jalan lagi, bahkan sampai larut. Maksud Zahra, ibu itu istirahat duluuu gitu, bukaaan... Bukan maksud Zahra melarang ibuk datang kesini, itu tidak benar.""Yaaa, dia kan lagi butterfly era ya!!! Nggak mau di ganggu kali dia, ya bu? Kita mah... Sudah terlupakan.""Cukup!!! Udah deh mas. Kamu tuh!!! Iiih!!! Udah deh, aku tuh lagi capek!!! Pusing!!! Kamu jangan bikin tambah runyam!!!""Ya ya ya. Ya aku juga nggak akan kesini kalau kamu tadi nggak abaikan panggilan aku, Neng. Kita kesini mau bahas sesuatu yang penting."Zahra tampak mengatur nafas, sedang berusaha mengatur gemuruh hatinya yang saat ini ingin meledak-ledak, tapi tidak mungkin dikeluarkan di dep
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zahwa sudah mulai mengantuk, kepalanya bersandar di bahu Zahra, sementara Rayyan masih terjaga, menatap jalanan kota dari balik kaca mobil. Lampu-lampu neon berkelip, menemani perjalanan pulang mereka.“Za… itu kayaknya di depan… ada mobil. Mobil siapa?” tanya Zean sambil memperlambat laju kendaraannya.Zahra mengerjap, menoleh ke arah yang dimaksud. “Hah? Aku nggak tahu ya, Zean. Kayaknya aku nggak ada janji dengan siapa pun hari ini.”Mobil Zean akhirnya berhenti tepat di depan rumah Zahra. Dan di sanalah, di bawah cahaya lampu jalanan yang temaram, tampak sosok yang tak asing lagi bagi Zahra. Seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, bersama seorang pria muda dan seorang gadis.Zahra tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Ibuk…?” gumamnya lirih.Ya, Bu Sukma. Mantan mertuanya. Dan di sampingnya, Dimas—mantan suami Zahra. Juga Dinda, adik perempuan Dimas.“Loh… kok, Buk? Ibu kok ada di sini? Sudah lama nunggu? Maaf, Zahra tadi…” Zahra belum
“Ih, dasar!” Zahra mencubit lengannya pelan. Zean pura-pura kesakitan, lebay banget sampai hampir jatuh dari kursi.“Za, aaaauuuuhhh.... kamu serius banget nyakitin aku. Apa gini cara calon Istrinya nyiksa suaminya? Belum jadi suamii loh ini” katanya sambil meringis tapi matanya jelas bercanda.Zahra ketawa, meski air matanya belum benar-benar kering. Tawanya pecah tapi masih getir. “Kamu tuh ya, bikin aku kesel tapi juga bahagia.”Zean langsung menggenggam tangan Zahra lagi, kali ini lebih mantap. Senyumnya mereda, jadi lebih lembut. “Itu tujuan aku. Biar kamu tahu, kalau kamu nggak akan pernah lagi nangis sendirian. Aku ada, Za. Aku beneran ada.”"Wait... Ini... Sungguh dari tadi agak mengganggu, Zean. Penasaran. Tapi... Ini, serius kamu sewa 1 cafe buat ginian doang?""Ahahahaha. Enggak, Zahra... Aku nggak sewa loh ini.""Hah, maksudnya?""Astaga... Ini cafe aku, Za. Lupa??? Perasaan dulu waktu SMA kamu juga sering kesini sama temen-temen kamu.""Ya Ampuuun. Aku lupa. Pantes, rasan







