Seragam Zira yang masih sedikit basah dan setengah kering membuatnya merasa tidak nyaman. Meski pelajaran sudah dimulai, pikirannya terus kembali ke taman tadi, tangisnya, kata-kata Zalleon yang menenangkannya, dan genggaman tangannya yang hangat. Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri. Bayangan ejekan Sara masih terngiang di kepalanya. Perlahan, Zira menunduk dan menatap buku di depannya, mencoba fokus pada pelajaran meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Tiba-tiba, bel pulang berbunyi nyaring. Suasana kelas langsung ramai. Para siswa segera berkemas dan keluar, termasuk Manda dan Lia yang mendekat sebentar untuk berpamitan. Saat mereka pergi, Zira menoleh ke arah pintu. Di sana, Zalleon sudah berdiri menunggunya. "Ayo. Aku antar pulang," ucapnya singkat. Zira tersenyum tipis. "Terima kasih, tapi aku rasa tidak perlu, Leo. Aku bisa pulang sendiri," jawabnya pelan. Zalleon menatapnya. Tatapannya serius, tetapi tetap lembut. "Tidak. Kamu harus pulang denganku. Aku i
Read more