Sesungguhnya, sejak awal, kabar kecelakaan Adit waktu itu menjadi kabar paling buruk bagi Clara. Di balik sikapnya yang terlihat tenang di mata banyak orang, tersimpan kecemasan yang nyaris meledak. Clara tidak bodoh; ia langsung tahu bahwa kecelakaan itu bukan sekadar nasib buruk di jalan raya. Seseorang telah merancang maut untuk Adit, dan di dalam benaknya yang kalut, satu nama muncul seperti bayangan hitam yang panjang: Raymond.Pikiran bahwa calon suaminya sendiri tega melakukan hal sekeji itu untuk menyingkirkan rival asmara membuat Clara menggigil. Ia bahkan sampai menemui Adrian, kakaknya, demi mencari kepastian. Namun, Adrian hanya menanggapi dengan ketenangan yang dingin. "Terlalu dini bagi Raymond untuk mengotori tangannya tanpa alasan yang absolut, Clara," tukas Adrian tenang. Kata-kata itu sedikit meredakan badai di kepalanya, meski benih kecurigaan itu tetap berakar.Semenjak itu, Clara bergerak di bawah bayang-bayang. Ia bukan sekadar pengamat yang pasif. Adit dan Vera
Read more