Suasana kamar itu semakin berat oleh uap gairah. Renata, dengan keanggunan seorang bos yang telah memenangkan taruhannya, perlahan membimbing Adit untuk tetap terlentang. Ia tidak terburu-buru. Baginya, momen semacam ini adalah selalu merupakan perayaan atas kekuasaannya.Dan ia menikmati hal itu meski ia tahu, Adit berbeda. Adit bukan lelaki-lelaki penghibur yang pernah ia sewa.Bahkan, sejak ia dan Adit bercinta waktu itu, bagi Renata, kenikmatan sejati baru bisa ia dapatkan jika ia bercinta dengan Adit. Dan seolah, jika tak ada Adit, ia tak bergairah sama sekali. Sebaliknya, begitu ia dekat dengan Adit, gairanya meluap-luap. Malam ini pun, sesungguhnya, Renata sudah tidak tahan lagi. Dan ia tak peduli dengan apapun. Ia hanya ingin memiliki Adit di ranjang.Kini semua telah ia dapatkan.Adit merasakan aliran energi di ujung jemarinya mulai berdenyut, sebuah insting purba ingin meledak dan menaklukkan wanita di atasnya dalam sekejap. Namun, Adit menahannya. Ia menarik napas panjang,
Read more