Adit melangkah masuk ke arena.Ia tidak bergegas. Langkahnya biasa, seperti seseorang yang sedang berjalan menuju sesuatu yang sudah lama menunggunya dan tidak perlu terburu-buru untuk tiba. Di bawah cahaya lampu taman, masker hitamnya membuat ekspresinya tidak terbaca, hanya matanya yang terbuka, tenang, memindai Ki Sono dengan cara yang tidak bisa disebut meremehkan tapi juga jauh dari gentar.Ki Sono mengamatinya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. "Kamu terlalu muda untuk tahu apa yang sedang kamu hadapi.""Mungkin," kata Adit."Bukan mungkin." Ki Sono meluruskan punggungnya. "Pasti. Tapi aku hormati keberanianmu. Ini akan cepat selesai."Adit tidak menjawab.Ia berdiri diam sebentar, dan kemudian, tanpa demonstrasi, tanpa isyarat yang mencolok, ia membuka jalur energinya.Tidak seperti Ki Sono yang membiarkan auranya mengembang keluar seperti nyala api yang ingin dilihat, Adit melakukannya dengan cara yang berbeda. Ia menarik ke dalam, mengumpulkan, menyimpan. Dari luar ia
Read more