Di sela-sela jeda pengambilan gambar yang melelahkan, Bu Ria menghampiri Adit yang masih terduduk di kursi riasnya.Bu Ria adalah tipe produser yang seolah mengharamkan kursi bagi dirinya sendiri; ia tidak pernah terlihat duduk, selalu berdiri, dan selalu bergerak.Tangannya tak pernah kosong, selalu ada naskah yang dibaca, ponsel untuk mengetik pesan, atau berkas yang ia tandatangani bahkan sambil bicara dengan orang lain.Perempuan berusia lima puluh tahun itu memiliki ciri khas kacamata yang selalu bertengger sedikit miring di hidungnya, serta suara mantap yang sanggup memenuhi ruangan tanpa perlu sedikit pun ditinggikan."Adit," katanya, "Kami sudah berdiskusi, aku, Pak Teguh, dan beberapa orang di tim inti." Bu Ria sedikit merendahkan suaranya. Bukan karena ada rahasia besar, tapi instingnya sebagai orang lapangan mengatakan bahwa percakapan sensitif ini tak perlu menjadi konsumsi seluruh orang di studio. "Kami ingin menawarkan sesuatu."Adit hanya diam menunggu, menatap pantulan
Read more