“Tuan Keenam, ini aku, Aria.”Aria mengangkat telepon dengan tangan bergetar. Matanya panas, suaranya parau seperti seseorang yang baru saja menangis.“Aku tahu.”Suara di ujung telepon terdengar mabuk ringan, namun nada bahagianya tidak bisa disembunyikan.Sementara itu, ayah Aria berdiri di depan putrinya, menatapnya tajam—ancaman tanpa kata.Ibu Aria menggenggam kedua tangannya erat-erat, memohon dalam diam agar putrinya mengakhiri hubungan itu.Aria memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu berkata dengan berani, meski seluruh tubuhnya bergetar,“Tuan Keenam… saya tidak akan bekerja di Club Anda lagi.”Keheningan seketika. Orang di ujung telepon jelas tidak menyangka.Aria melanjutkan, suaranya pecah, namun setiap kata terdengar penuh tekad, “Terima kasih banyak atas semua bantuan Anda selama ini. Tanpa Anda, saya tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Saya… saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Anda.”Suara pria itu berubah—dari penuh ha
Huling Na-update : 2025-11-24 Magbasa pa