Pertanyaan itu tidak punya jawaban sederhana. Ia meletakkan gelas itu kembali, lalu berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka, memperlihatkan jalan kecil di bawah yang mulai sepi.Beberapa lampu masih menyala. Beberapa sudah mati. Sama seperti pikirannya, sebagian masih terang, sebagian lain gelap.Vyora menyandarkan dahinya ke kaca. Dingin. Dan sedikit membantu. “Aku harusnya berhenti dari awal."Namun, kalimat itu tidak terasa sepenuhnya jujur. Karena kalau benar, ia sudah melakukannya. Faktanya, ia tidak. Ia tetap ikut. Tetap bermain dalam situasi itu. Dan sekarang ia harus menghadapi konsekuensinya.Vyora menutup mata sejenak. Lalu membukanya kembali. Bayangan Leo muncul lagi. Cara dia menatapnya tadi malam. Cara dia bicara di telepon. Dan terutama, cara dia tidak mundur.Vyora menghela napas panjang. “Itu yang bikin masalah,” gumamnya.Kalau Leo ragu, mungkin semuanya akan lebih mudah. Kalau Leo hanya menganggap ini permainan saja, ia bisa menjaga jarak.Namun, Leo tidak se
Read more