Sunyi itu tidak bertahan lama. Karena permainan sudah bergerak.Di ruang kerja Rafael, udara terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada yang berbicara. Namun semua orang berpikir. Cepat.“Dia sengaja,” ucap Bastian akhirnya, memecah keheningan.Rafael tidak menoleh.“Dia sengaja menyebut Arman,” lanjutnya. “Itu bukan kebocoran. Itu pesan.”Rudi mengangguk kecil. “Dan sekaligus tekanan.”“Bukan cuma itu,” Bastian menyandarkan tubuhnya ke meja. “Dia mau kita panik.”Rafael akhirnya bergerak. Ia berjalan pelan, lalu berhenti di depan jendela. Matanya menatap gelap di luar.“Kalau dia mau kita panik…” suaranya rendah, dingin, “…berarti dia belum siap.”Sunyi. Kalimat itu mengubah arah.Bastian tersenyum tipis. “Nah. Ini baru Rafael yang gue kenal.”Rafael berbalik.“Rudi.”“Ya, Pak.”“Mulai sekarang, semua jalur komunikasi Nadya kita buka.”Nadya tersenyum kecil dari tempatnya berdiri. “Percuma.”Rafael menatapnya.“Kalau dia cukup pintar untuk masuk, dia cukup pintar untuk menghilang.
Read more