Hanna menunggu. Tapi, Rafael tak kunjung berkata. Membuatnya kemudian menunduk pelan. Jemarinya menggenggam ujung kaus yang dikenakannya, gugup, sementara Rafael hanya menatap dalam diam.Ada banyak hal yang ingin ia katakan — tentang penyesalan, tentang rasa bersalah, tentang perasaan yang ia sendiri tak sanggup akui. Tapi, semua kata itu terasa tak berarti ketika ia melihat getaran di dalam mata Hanna.Ia semakin mendekatkan diri. Satu tangan Rafael menyentuh pipi Hanna, menelusur hingga ke lehernya yang bergetar halus. Hanna memejamkan mata, menarik napas panjang, seolah berusaha mengingat seperti apa rasanya disentuh dengan penuh kelembutan. Sudah terlalu lama ia melupakan itu.“Rafael…”Namanya keluar lirih, lebih seperti embusan napas daripada panggilan.Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memeluk Hanna — perlahan, hati-hati, seakan takut perempuan itu akan hancur jika dipeluk terlalu erat.Pelukan itu lama. Hangat. Tak ada yang berkata apa-apa, tapi di dada mereka yang saling men
Terakhir Diperbarui : 2025-11-09 Baca selengkapnya