“Bukan, Yang Mulia!” seru prajurit itu, terengah-engah. “Mereka hanya mengirimkan satu unit kecil, tapi… di Hutan Angsana, mereka meninggalkan sesuatu. Semacam menara pengepungan dari besi. Dan mereka baru saja menembakkannya! Ini bukan api atau sihir yang kami kenal!”Suro Joyo, Lodra Dahana, dan yang lainnya segera bergegas menuju jendela besar yang menghadap ke utara, yang kini memperlihatkan asap tebal membubung tinggi di atas pepohonan di luar gerbang utama."Api apa itu?" tanya Arum Hapsari, matanya menyipit karena khawatir."Itu pasti Meriam Angin Malam," desis Lodra Dahana, wajahnya sepucat kertas. "Mereka hanya menguji kita. Itu adalah tembakan peringatan."Tiba-tiba, lantai istana bergetar hebat. Getaran itu lebih dari sekadar goncangan gempa bumi; rasanya seperti pukulan palu raksasa yang menghantam inti bumi.Dari kejauhan, terdengar suara robekan material yang mengerikan, diikuti oleh lolongan kesakitan ratusan orang. Salah satu prajurit di menara pengawas berteriak, suar
Last Updated : 2025-11-21 Read more