ログインSuro Joyo ingin kembali ke kerajaannya, Krendobumi. Di tengah perjalanan diserang sosok yang sama persis dengan dirinya. Bedanya, yang menyerang berpakaian warna putih, sedangkan Suro Joyo berpakaian warna merah. Suro Joyo jadi-jadian ini samaran dari Badas Wikatra. Badas Wikatra pendekar dari golongan hitam yang memiliki kesaktian luar biasa. Satu kesaktian yang membahayakan, dirinya mampu mengubah dirinya sama persis dengan Suro Joyo sejati! Sebelumnya, dengan cara menyamar sebagai Suro Joyo, Badas Wikatra membunuh Maeso Item dan Trinil Manis. Maeso Item dan Trinil Manis guru Suro Joyo. Badas Wikatra juga telah membunuh kedua orang tua Suro Joyo, Agung Paramarta dan Niken Sari, serta para punggawa Kerajaan Krendobumi. Dalam pertarungan melawan Badas Wikatra, Suro Joyo hampir tewas. Dia ditolong Ki Tambung Bumandala. Pendekar yang dijuluki Pendekar Bisu. Suro Joyo digembleng berbagai ilmu dan kesaktian di Padepokan Carang Giring. Suro Joyo juga menapatkan Mantra Sakti Pemanggil Tombak Bowong warisan dari Maeso Item dan Trinil Manis. Setelah dirasa cukup menguasai ilmu dari Pendekar Bisu, Suro Joyo pamit ke Krendobumi untuk menumpas Badas Wikatra dan pengikutnya. Suro Joyo siap mengembalikan rakyat Krendobumi kembali ke masa kejayaan, makmur, dan sejahtera. Masa kejayaan untuk rakyat jelata, bukan untuk para punggawa. Suro Joyo tahu, melawan Badas Wikatra itu sama saja bunuh diri. Ilmu yang dimiliki Suro Joyo tak seberapa dibandingkan Badas Wikatra. Namun Suro Joyo siap bertaruh jiwa demi menegakkan keadilan dan kebenaran di alam semesta. ***
もっと見る"Saya terima nikah dan kawinnya Husna Lavina binti wali hakim dengan mas kawin emas seberat 10 gram di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?""Sah!!""Alhamdulillah,"Tanpa terasa air mata Husna mengalir dari pelupuk mata teduhnya. Pria yang amat ia hormati kini telah resmi menjadi suaminya. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari hari pemihakannya meski dengan perjodohan. Jangan tanyakan cinta pada Husna, sejak lama ia menaruh hati pada pria yang kini menjadi imamnya. Namun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan."Sayang sekarang kamu sudah menjadi cucu menantu nenek. Temui Andaru, suamimu."Husna memeluk wanita yang tidak lagi muda di depannya dengan perasaan haru. Hidupnya telah berubah setelah bertemu dengannya meski ujian tidak ada akhir datang menghampiri."Ya, Nek. Terima kasih untuk semuanya," lirih Husna di sela isak tangisnya."Hei, berhenti menangis. Lihat cantiknya hilang nanti, tunjukkan senyum indahnya pada nenek,"Husna tersenyum melepaskan pelukannya, berlahan berbalik arah di mana wajah dingin suaminya yang ada di depannya dengan santun Husna menyambut tangan Andaru dan menciumnya seketika tubuhnya bergetar ketika wajah Andaru mendekatinya. Mengecupnya dengan lembut, tidak ada yang tahu apa yang di lakukan pria yang kini mendekatkan wajahnya kearah kening Husna."Jangan mimpi kau bisa menjadi ratu di rumah ini. Ingat, kau tetaplah pengasuh nenekku. Pengasuh tetaplah menjadi pengasuh tidak mungkin menjadi Nyonya." ucap Andaru dingin tatapannya tajam menghunus jantung Husna.Husna tersentak mendengar kata-kata yang di lontarkan pria di depannya. Kata yang hanya bisa ia dengar sendiri, Husna berusaha untuk menyembunyikan air matanya sedetik kemudian bibirnya mengukir senyum indah."Kau gila."Dua kata yang lontarkan oleh Andaru berhasil menghilangkan senyumnya. Terdiam sesaat sebelum ia menjawab perkataan Andaru."Terima kasih,"Pernikahan berlangsung dengan sederhana hanya di hadiri oleh keluarga besar Andaru dan kerabatnya. Husna adalah seorang yatim-piatu sehingga tidak ada satupun kerabat yang datang."Kalian istirahatlah. Husna, mulai hari ini kamar kamu bersama dengan Andaru. Andaru bawa pergi istrimu, perlakuan dia dengan baik. Ingat jika saja kamu menyakiti Husna itu artinya kamu menyakiti nenek." Kata Abila yang tidak lain nenek Andaru penuh penekanan."Nenek jangan khawatir, aku akan memperlakukannya dengan baik." lirih Andaru."Kau akan tetap disini?"Suara bariton mengejutkan Husna dengan langkah tertatih Husna mengikuti Andaru yang berada di depannya. Tanpa memperdulikan dirinya yang kesulitan menaiki tangga Andaru terus melangkah semakin jauh darinya."Andaru!! Bantu istrimu menaiki tangga. Cepatlah buatkan nenek cicit ya!! Supaya ada penerus keluarga kita.""Nenek jangan khawatir soal itu, oke!!""Menyusahkan." bisiknya di telinga Husna."M— maaf, tuan."Husna mengikuti langkah Andaru ke lantai dua dimana kamarnya berada. Tubuhnya yang lelah dan lengket membuat Husna ingin segera ke kamar mandi namun ia urungkan melihat wajah tidak bersahabat dari pria yang kini berkacak pinggang.Husna tahu jika kemarahan Andaru karena mendengar permintaan neneknya yang memintanya untuk membantu mengangkat ekor kebaya panjangnya yang menjuntai ke lantai, maka ia bersiap menerima kemarahan Andaru.Brakkkk!!"Layani aku sekarang!!"Husna terkejut mendengar suara dingin Andaru, tubuhnya seketika mematung. Tidak di pungkiri hal itu adalah tugas dan wajib hukumnya Husna melayani suaminya, tetapi cara dan sikap Andaru membuatnya berfikir ribuan kali untuk menerima terlebih ucapan Andaru masih terngiang di telinganya.Andaru yang melihat Husna hanya diam mematung telah membangkitkan amarahnya tanpa memikirkan perasaan Husna, Andaru menarik tubuh Husna kembali mengeluarkan kata yang mengoyak hatinya."Kenapa diam? Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang istri melayani suami? Sekarang aku meminta hakku. Cepat kemari atau kau lebih suka aku paksa?!"Entah apa yang ada dalam hati Andaru ia mendorong tubuh Husna dengan kasar melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya penyatuan itu terjadi. Tanpa Andaru sadari linangan air mata mengalir begitu deras dari kelopak mata sendu Husna."Apa kau akan menjadi patung, disana? Ingat ini kamarku jangan sekali-kali kau tidur disana. Tempat tidurmu disini, cepat bangun aku tidak membutuhkan kamu lagi di sini."Andaru menarik pergelangan tangan Husna menjatuhkan ke lantai tanpa belas kasih Andaru melemparkan selimut tebal pada Husna.Husna terdiam melihat punggung Andaru laki-laki yang kini resmi menyandang status imamnya namun sayangnya sikap Andaru tetap sama dingin dan penuh kebencian padanya bahkan baru saja mereka melakukan penyatuan.Andaru merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan dirinya saat melihat Husna yang kini telah halal untuknya. Kemarahannya pada sang nenek telah ia lampiaskan pada Husna, dengan merenggut kesuciannya adalah balasan yang tempat untuk wanita kampung. Lelaki mana yang tidak akan marah jika cintanya harus kandas dan menikah dengan wanita lain yang menjadi pilihan neneknya.Husna memindai sekeliling lantai yang dingin tanpa adanya tikar untuk alas. Tempat tidurnya adalah lantai yang ia pijak, rasa nyeri dan tubuhnya yang remuk tidak membuatnya menyerah dengan tertatih Husna memungut pakaian yang berserakan akibat ulah Andaru.Peletak"Aww!!""Apa kau tuli hah?! Cepat bereskan kamarku dari kekacauan ini. Dan kau jangan sekalipun menyentuh barang pribadiku. Ingat, setiap detail kamar ini dan letak barangnya jika bergeser kau akan menerima konsekuensinya!!""Argh!!"Tubuh Husna terhuyung ke depan jika tidak sigap wajahnya akan mencium lantai yang dingin meski harus mengalami luka bagian keningnya darah keluar membuat tatapan Husna menghambur."Berhenti berupa-pura. Cepat pergi ke kamar mandi jangan membuat kesabaranku habis."Andaru mendorong tubuh kecil Husna hingga masuk kedalam kamar mandi, tubuhnya ambruk saat pintu tertutup dengan keras."Apa yang harus aku lakukan? Semuanya tidak seperti yang nenek pikirkan." lirih Husna.Satu jam sudah Husna berada di dalam kamar mandi, suara dentuman musik memekikkan telinga, berlahan Husna keluar dengan daster panjang dan kerudung bergo menutupi rambutnya yang panjang. Husna terkejut dengan penampilan kamar suaminya yang minim cahaya sehingga Husna berusaha untuk melangkah menuju tempat tidurnya."Sudah aku katakan jangan menyentuh apapun yang ada dalam kamar ini jika kau akan tidur maka tidur di lantai karena tempat ini adalah milikku."Husna menganggukkan kepalanya tanpa berniat untuk membantunya. Andaru yang ada di depannya menatap dengan tatapan mematikan, suara yang begitu dingin sarat dengan penekanan mampu menghadirkan ketakutan tersendiri."T— tapi mas,"Husna berharap apa yang mereka lakukan tidak menyebabkan kehamilan yang membuat hati Andaru semakin membencinya, walau kenyataannya ia berharap Andaru berubah."Diam!!! Sejak kapan kau berani memanggilku dengan sebutan mas? Katakan?! Panggil seperti biasanya tuan. Kau paham?""B— baik tuan,""Bagus, mulai saat ini kau akan tidur di bawah. Oke, sebagai manusia aku memiliki rasa simpati padamu. Ambil selimut ini untuk alas, jika nenek datang ke kamar ini. Kau tahu apa yang harus kamu lakukan?""B— baik tuan, saya paham.""Tunggu!!""Ada apa tuan?" Husna berusaha menekan rasa sakit yang semakin menjadi, tidak ingin terlihat lemah walau air matanya adalah bukti betapa dirinya yang rapuh dan tidak berdaya."Husna Lavina binti wali hakim. Mulai hari ini, detik ini aku talak kamu."Tubuh Husna terhuyung kebelakang air matanya mengalir begitu deras, lidahnya kelu, tenggorokan tercekat sehingga suara teriakan tertahan di tenggorokan. Ingin menanyakan apa yang terjadi padanya sehingga harus di talak setelah berapa jam menjadi suaminya bahkan mereka melakukan berapa saat yang lalu dan kini suaminya telah menjatuhkan talak padanya."Menyingkir dari hadapanku. Malam ini kau tidur disana. Besok pagi sebelum aku terbangun kau harus pergi dari kamar ini."Husna diam sejenak tempat yang di berikan oleh Andaru adalah lantai yang berada di sudut kamarnya. Usai menerima selimut tebal Husna membaringkan tubuhnya membungkusnya dengan rapat sehingga Andaru tidak bisa melihat tubuhnya yang bergetar karena tangisnya.Sesuai keinginan Andaru keesokan paginya setelah menjalankan Salat subuh Husna mengerjakan semua pekerjaan meski menahan sakit yang tidak kunjung hilang. Nenek yang telah memperingatkan dirinya untuk tidak melakukan sebab kini statusnya adalah menantu bukan lagi seorang pelayan."Apa kamu yang mengerjakan semua ini, Husna? Kamu adalah nyonya di rumah ini untuk apa kamu mengerjakan tugas asisten rumah tangga? Apakah kamu tidak ingin melayani suamimu?""N— nenek, aku—""Nek, aku dan Husna akan berbulan madu. Apakah nenek menyukainya?"Suro Joyo memejamkan mata sejenak. Ia sudah mengalahkan tiran. Ia sudah membalaskan dendam keluarganya. Ia telah melihat wajah Ayumanis dan Westi Ningtyas di tengah kerumunan, dan ia tahu bahwa ia telah membuat pilihan hati yang rumit—pilihan yang akan ia bawa sebagai beban maupun berkat. Tapi, tahta ini, singgasana megah di belakangnya, terasa seperti sangkar yang terbuat dari emas murni."Aku mengerti kewajibanku," jawab Suro Joyo, suaranya dalam dan terdengar jelas di seluruh aula yang hening. "Aku telah menerima takdir ini sejak aku mengangkat Tombak Bowong untuk pertama kalinya. Tetapi, aku telah melalui api dan badai sebagai seorang ksatria pengembara, bukan sebagai raden istana. Aku telah melihat penderitaan rakyat jelata dari dekat, bukan dari balik jendela benteng ini."Lodra Dahana, yang berdiri gagah dengan zirah upacara Garbaloka, melangkah maju. "Tuanku Raja, tradisi menetapkan bahwa seorang Raja harus berakar di Istana. Hanya dari sini, hukum dan ketertiban dapat ditegak
Suro Joyo bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke puing-puing istana yang tengah diperbaiki. Angin sepoi-sepoi membawa dinginnya kenyataan baru. Ia merasakan beban di punggungnya, bukan lagi beban balas dendam, melainkan beban tanggung jawab atas seluruh rakyatnya.Tiba-tiba, benda sakti pemberian Brajawala, yang Suro Joyo sebut ‘Benda Brajawala’ (atau ‘Brajawala’) di tangannya bergetar hebat. Itu bukan hanya sensasi panas, melainkan sebuah denyutan ritmis. Suro Joyo meremasnya, dan tanpa sadar, ia memfokuskan ajian penyerap energi ke benda itu.Energi Ki Tambung berinteraksi dengan esensi misterius dari benda Brajawala, dan sebuah kejutan listrik menjalari kesadaran Suro Joyo. Seketika, dinding-dinding aula dewan menghilang.Suro Joyo tidak lagi di Krendobumi. Ia berada dalam visi yang dingin dan suram.Ia berdiri di puncak tebing yang tak dikenal. Di bawahnya, hamparan lautan yang gelap dihiasi oleh ratusan kapal perang dengan layar hitam yang mena
Ranunggabaya, salah satu sosok bertopeng perak itu maju selangkah. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga, udara di antara mereka mengeras. Sebuah panah es kristal setajam belati terbang cepat ke arah dada Suro Joyo.Suro Joyo menangkisnya dengan Tombak Bowong, tetapi panah itu meledak dalam kontak, menyebarkan pecahan es tajam ke segala arah.Syut! Syut!“Di mana teman-temanmu?” gertak Suro Joyo. “Datangkan semuanya kemari untuk kulenyapkan!”Ranunggabaya hanya hanya tertawa dingin sambil menghunus pedang saktinya. Dia serang Suro Joyo dengan penuh semangat.Suro Joyo melayani serangan lawan dengan berkelit. Dia simpan tombak saktinya di angan-angan. Dia ingin menuntaskan perseteruannya dengan Ranunggabaya.Pertarungan Ranunggabaya lawan Suro Joyo berlangsung seru dan keras. Sekali waktu Suro Joyo berhasil menendang Ranunggabaya. Pedang lepas dari tangan. Pada saat yang tepat, Suro Joyo mengeluarkan ajian lamanya yang disimpan rapat-rapat. Ajian Rajah Cakra Geni!Dari t
Ada satu nama yang sering menjadi topik pembicaraan di kalangan Badas Wikatra nasibnya masih mengambang. Dialah Ranunggabaya.“Ia sudah mundur ke wilayah perbatasan Karangtirta, Tuanku,” lapor Lodra Dahana suatu sore, saat mereka memeriksa perbaikan Balai Kota yang rusak parah akibat pertempuran. “Kami curiga ia sedang menggalang kekuatan, menuntut janji yang dulu pernah dilontarkan Badas Wikatra padanya. Garbaloka telah mengirim mata-mata, tapi Karangtirta adalah sarang persembunyian yang sulit ditembus.”“Biarkan dia menuntut takhta yang dia inginkan,” sahut Arum Hapsari, menyapu debu dari peta yang terbentang di meja. “Fokus kita harus di sini. Gudang pangan utama di Bendasana sudah hampir penuh, tapi kita kekurangan tenaga ahli untuk memperbaiki irigasi di Kadipaten selatan. Itu mendesak untuk ditangani jika kita ingin panen besar enam bulan mendatang bisa ditampung.”Suro Joyo mengangguk, sorot matanya yang tajam tertuju pada wilayah yang ditunjuk Arum. Ia mengenakan pakaian yang
Sarenggolo tertawa serak, tawa yang terdengar seperti gesekan batu nisan. Ia menikmati ketakutan di mata Westi, keputusasaan yang terpancar dari wajah gadis itu saat memeluk tubuh Sadrata yang semakin dingin."Manis sekali. Sepasang kekasih yang mati bersama," e
“Kisanak Suro Joyo..., aku memang bukan Riris Manik,” ucap perempuan berparas cantik yang berpakaian mewah layaknya putri kerajaan itu.Suro Joyo semakin dibuat kaget karena gumamannya yang lirih ternyata didengar perempuan berparas memikat itu. Dalam benaknya, Suro Joyo
“Ini serigala jenis apa ya?” kata Suro Joyo agak keras untuk menggertak segerombol binatang pemakan daging yang menggeram-geram di bawah sana, berjarak sepuluh tombak. “Mengapa besarnya hampir sebesar kerbau? Apa makanan yang ada di hutan ini membuat
Suro Joyo berjalan dengan langkah tenang penuh kehati-hatian menelusuri kelebatan Hutan Jiwangkara. Setiap langkahnya penuh kewaspadaan, matanya menyapu sekeliling, mencermati setiap gerak di balik semak belukar. Tujuh hari tujuh malam adalah waktu yang panjang di tengah hutan yang angker.Manusia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.