"Itu tadi Wulan habis jatuh, Bu. Sepatunya sudah kekecilan katanya. Jadi waktu dia jatuh, jarinya terluka akibat dia pakai sepatunya sambil nekuk jari. Mungkin ada sedikit kesleo. Coba nanti diantar ke tukang pijat," jelas Pak Ketut pada nenek.Nenek terdiam. Wajahnya kaku, matanya menatapku sekilas, lalu perlahan beralih ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa. Tapi aku bisa membaca pikirannya. Tatapan itu bukan sekadar prihatin—itu amarah yang ditahan, kekecewaan yang sudah menumpuk terlalu lama."Ibumu memang dari dulu keterlaluan," bisiknya lirih, tapi cukup jelas hingga membuatku tertegun. Aku yakin Pak Ketut yang barusan menyampaikan kabar itu juga mendengarnya, meskipun pura-pura tidak mendengar. "Kalau begitu saya pamit kembali ke sekolah dulu, Bu. Permisi. Assalamualaikum," kata Pak Ketut sembari membenahi tas selempangnya."Waalaikumsalam," jawab nenek pelan.Begitu Pak Ketut menghilang di tikungan gang, nenek seperti meledak. Suaranya menggema di setiap sudut rumahku. Nenek
Last Updated : 2025-06-18 Read more